Cilacap, Dinamikanews.net – Disebut Benteng Pendem karena bangunan ini sebagian besar tertanam di dalam tanah, sehingga dari kejauhan tampak seperti “terpendam”. Nama aslinya adalah Benteng Willem I, dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda.
*Lokasi
Terletak di pinggir pantai selatan, tepatnya di Kelurahan Kemantren, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah — menghadap langsung ke Samudra Hindia.
*Sejarah Pembangunan
– Dibangun sekitar tahun 1861–1879 atas perintah Belanda, sebagai benteng pertahanan strategis.
– Tujuannya: menjaga pelabuhan Cilacap dari serangan musuh, melindungi jalur perdagangan, serta menjadi pangkalan militer yang kokoh.
– Benteng ini berbentuk bintang lima, dikelilingi parit yang dulu berisi air, lengkap dengan ruang senjata, gudang mesiu, barak prajurit, hingga penjara bawah tanah.- Semua bahan bangunan diimpor: batu dari Karang Bolong, kapur dari Wonosobo, kayu dari hutan jati.
*Masa Perjuangan
– Saat Jepang berkuasa (1942–1945), benteng ini tetap dipakai sebagai pertahanan militer.
– Setelah kemerdekaan, TNI dan rakyat mempertahankannya dari serangan Belanda yang ingin menjajah kembali.
– Di sini sempat terjadi pertempuran sengit antara pejuang Indonesia dan pasukan Belanda. Banyak pahlawan gugur di tempat ini.
*Legenda & Misteri
Banyak kisah turun-temurun yang melekat:
– Konon, pada malam-malam tertentu terdengar suara langkah kaki prajurit, perintah baris-berbaris, atau suara meriam kuno.
– Ada yang melihat sosok berpakaian seragam lama berkeliling di sudut-sudut benteng.
– Dikatakan pula ada lorong rahasia yang menghubungkan benteng dengan tempat lain, namun kini tertutup atau runtuh.
– Warga percaya tempat ini dijaga oleh roh para pahlawan yang dulu berjuang di sana — bukan menakuti, melainkan melindungi.
Kini: Saksi Bisu yang Tetap Tegak
Meskipun sudah tua, dindingnya yang tebal dan kokoh masih berdiri menghadap ombak. Kini Benteng Pendem menjadi situs bersejarah sekaligus tempat wisata. Pengunjung bisa berjalan di atas tembok benteng, menikmati pemandangan laut yang luas, serta merasakan suasana masa lalu yang terasa masih melekat.
Setiap sudutnya menyimpan kenangan: tawa prajurit, jerit perang, air mata, dan semangat kemerdekaan. Benteng Pendem bukan sekadar bangunan batu — ia adalah penjaga ingatan tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.
(D. Miranoor)















