PEKALONGAN, Dinamikanews.net — Kota Pekalongan tak hanya dikenal sebagai Kota Batik, melainkan juga tanah kelahiran para pejuang yang menumpahkan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia. Berikut sederet nama besar yang patut dikenang.
1. Soepeno — Putra Bangsa yang Menjadi Menteri Muda
Lahir di Pekalongan, 12 Juni 1916, Soepeno merupakan tokoh pergerakan yang menjabat sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Revolusi Indonesia (1948–1949) . Ia aktif berjuang mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda, dan namanya kini diabadikan sebagai salah satu pahlawan kebanggaan Pekalongan .
2. Peristiwa 3 Oktober 1945 & Para Syuhada Kebon Rojo
Satu bulan setelah Proklamasi, rakyat Pekalongan bangkit merebut kekuasaan dari tangan Jepang pada 3 Oktober 1945. Pertempuran di kawasan Kebon Rojo menewaskan 37 pejuang, nama-nama mereka kini terukir di Tugu Perjuangan Pekalongan. Salah satunya adalah Habib Sech B. Muchamad Al Idrus, tokoh masyarakat yang gugur membela tanah air.
3. KH. Abdul Ghaffar Ismail — Ulama Pejuang
Tokoh agama sekaligus pejuang kemerdekaan ini turut menggerakkan semangat rakyat melawan penjajah. Namanya kini diabadikan menjadi nama jalan di Kota Pekalongan sebagai bentuk penghormatan Pemerintah Daerah .
4. Mbah Gendhon (Muhammad Arsal) — Pejuang Rakyat yang Ditakuti Belanda
Tokoh ulama rakyat ini dikenal karena perlawanannya terhadap kekuasaan kolonial. Rumahnya dijadikan tempat persembunyian para pejuang, dan kisah keteguhan perlawanannya melekat dalam ingatan masyarakat hingga kini .
5. Jenderal Hoegeng Iman Santoso — Simbol Integritas
Lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921, mantan Kapolri ini dikenal sebagai sosok paling jujur dalam sejarah kepolisian Indonesia. Warga Pekalongan dan pemerintah daerah kini mengusulkan agar beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid menyatakan, pengenalan kembali nama-nama para pejuang ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menanamkan nilai kepahlawanan ke dalam jiwa generasi muda .
“Jasa mereka tak terukur dengan materi, namun semangatnya harus terus hidup di setiap langkah warga Pekalongan,” ujarnya.
Monumen Perjuangan 3 Oktober 1945 di halaman Masjid Asy Syuhada tetap berdiri tegak, menjadi saksi bisu: kemerdekaan yang kita nikmati hari ini ditebus dengan darah para kusuma bangsa dari tanah Pekalongan.
(D. Miranoor)















