TEGAL, Dinamikanews.net — Nama Martoloyo tak sekadar nama dalam sejarah Tegal. Ia adalah sosok kunci yang melahirkan Kabupaten Tegal sekaligus pahlawan yang memilih gugur demi kedaulatan rakyat dari campur tangan bangsa asing.
*Asal Usul dan Kelahiran
Tumenggung Arya Martoloyo, nama kecil Wirasuta, diyakini putra dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, dan RA Ayu Rambe — keturunan keluarga besar Kalinyamat. Ia diangkat menjadi penguasa Tegal pada 12 Desember 1625 M (12 Mulud 1035 H), bertepatan dengan upacara Grebeg Sekaten di Mataram. Peristiwa ini dianggap sebagai hari lahirnya Kabupaten Tegal .
Catatan lain menyebutkan pengangkatannya secara resmi sebagai Adipati terjadi sekitar tahun 1636 pada masa Sultan Agung, dengan wilayah pusat pemerintahan awal di kawasan Banjaran, sebelum akhirnya berpindah ke Slawi.
*Kepemimpinan dan Sikap Tegas
Martoloyo memimpin Tegal sekitar 1625–1678 M, melintasi masa pemerintahan Sultan Agung hingga Amangkurat II. Ia dikenal berwatak blakasuta — jujur, lugas, dan setia kepada rakyat, tak takut menentang kebijakan pusat jika dirugikan.
Puncak perlawanannya muncul ketika Amangkurat II bersekutu dengan VOC Belanda untuk menumpas pemberontakan Trunojoyo, dengan imbalan penyerahan wilayah pesisir utara Jawa kepada Belanda. Martoloyo menolak tegas: ia tak mau rakyat Tegal dijajah secara halus.
*Tragedi Dua Sahabat, Legenda Abadi
Karena ketidakpatuhannya, raja mengutus sahabat karibnya sendiri — Adipati Martopuro dari Jepara — untuk menundukkannya. Pertemuan keduanya di perbatasan Tegal berubah menjadi tanding hidup-mati. Dua ksatria yang dulu seperguruan kini berhadapan karena perbedaan prinsip.
Kisah menyebutkan keduanya sama-sama gugur di tempat pertarungan, yang kini dikenal di kawasan Gili Tugel, Kota Tegal. Martoloyo wafat, namun namanya hidup sebagai lambang harga diri, keberanian, dan cinta tanah air bagi warga Tegal.
*Warisan Hingga Kini
– Kraton Martoloyo di Kelurahan Kraton, Tegal Barat, menjadi saksi jejak kekuasaannya.
– Makamnya diziarahi warga hingga kini, dan banyak tokoh budaya mendesak agar namanya diusulkan sebagai Pahlawan Nasional karena perlawanan dini terhadap penjajahan.
– Setiap peringatan hari jadi Kabupaten Tegal, nama Martoloyo selalu dikumandangkan sebagai bapak pendiri daerah ini .
“Martoloyo bukan sekadar nama penguasa. Ia adalah cermin watak orang Tegal yang teguh pendirian, berani berkata tidak, dan rela gugur demi kehormatan.” — ungkap pegiat budaya W. Winarno.
(D. Miranoor)















