CIREBON, Dinamikanews.net – Ribuan jamaah dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul di Komplek Pemakaman Astana Gunung Sembung, Cirebon, untuk memperingati Haul Agung Syekh Syarif Hidayatullah, yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, salah satu anggota Wali Songo sekaligus pendiri Kesultanan Cirebon .
Peringatan ini digelar setiap tahun bertepatan dengan hari wafatnya beliau, yaitu tanggal 19 September 1568 Masehi atau 26 Rayagung 891 Hijriah .
*SIAPA SYEKH SYARIF HIDAYATULLAH?
Syarif Hidayatullah lahir tahun 1448 Masehi, putra dari Syarif Abdullah (keturunan Rasulullah dari Mesir) dan Nyai Rara Santang, putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Beliau belajar agama di berbagai tempat, kembali ke Nusantara, dan berdakwah di Cirebon menggantikan pamannya Pangeran Cakrabuana. Tahun 1479 beliau dinobatkan sebagai penguasa Cirebon dan mendirikan Kesultanan Cirebon.
Beliau menyebarkan Islam ke wilayah luas — Cirebon, Banten, hingga sebagian Priangan — memadukan dakwah, pemerintahan, dan budaya lokal. Wafat di usia 120 tahun dan dimakamkan di bukit Gunung Sembung, sehingga dijuluki Sunan Gunung Jati .
*SUASANA HAUL AGUNG
Rangkaian peringatan berlangsung khidmat dan penuh kehangatan:
– Ziarah Makam: Jamaah berdatangan sejak subuh menuju makam, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan mengirimkan fatihah untuk leluhur besar ini.
– Pembacaan Shalawat & Tahlil: Acara diisi lantunan shalawat, tahlil, dan doa bersama yang dipimpin ulama setempat.
– Kajian & Peringatan Sejarah: Para ulama dan keturunan Keraton Cirebon menyampaikan kisah perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menegakkan Islam serta persatuan umat.
– Tradisi Pusaka: Sebelumnya, Keraton Kasepuhan menggelar siraman pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati — simbol penyucian diri dan doa keberkahan — yang diikuti antusiasme warga.
*MAKNA DAN PESAN
Pemangku adat serta tokoh masyarakat menyampaikan bahwa Haul Agung ini bukan sekadar mengenang kematian, melainkan meneladani semangat hidup beliau: toleransi, kebersamaan, kemajuan pendidikan, serta persatuan antarumat beragama.
“Sunan Gunung Jati mengajarkan bahwa Islam dibawa bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kebijaksanaan, budaya, dan persaudaraan. Inilah warisan yang harus kita jaga.” — ujar salah satu juru kunci makam.
Haul ini juga menjadi momentum silaturahmi keluarga keturunan, ulama, pejabat, dan warga dari berbagai daerah, mengukuhkan Cirebon sebagai pusat peradaban Islam yang damai dan terbuka.
*WARISAN ABADI
Hingga kini, nama Syarif Hidayatullah diabadikan sebagai nama universitas besar di Jakarta, jalan-jalan, dan lembaga pendidikan di seluruh negeri. Makamnya tetap menjadi tujuan wisata religi yang dikunjungi ribuan orang setiap harinya.
((D. Miranoor)















