SLAWI, Dinamikanews.net – Kawasan Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang terpelihara dalam sederetan makam keramat yang tersebar di berbagai desa. Situs-situs ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir tokoh-tokoh besar, melainkan saksi bisu perjalanan penyebaran agama Islam, pembentukan wilayah, serta warisan leluhur yang masih dihormati dan diziarahi hingga saat ini .
*Makam Dawa dan Kethu Agung, Jejak Dakwah Abad ke-15
Salah satu situs paling bersejarah dan terkenal adalah Makam Dawa dan Kethu Agung, terletak di Desa Dukuhsalam, Kecamatan Slawi. Komplek ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15 Masehi, masuk dalam daftar cagar budaya daerah, dan diyakini sebagai tempat bersemayam Syekh Abdurrahman, seorang ulama penyebar agama Islam, beserta istrinya .
Nama “Dawa” sendiri berasal dari kata dakwah, melambangkan perjuangan panjang menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat yang kala itu masih banyak menganut kepercayaan Hindu-Buddha. Sementara itu, situs Kethu Agung—juga disebut Iwil-iwil—dipercaya sebagai makam istri Syekh Abdurrahman, yang melambangkan kasih sayang dan keselarasan pasangan Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Di kompleks ini juga dimakamkan lima tokoh penting lainnya: Ki Ageng Durahman dan Ki Ageng Jabar Lor, yang berasal dari Tulungagung, Jawa Timur, datang ke wilayah ini untuk menyebarkan syiar Islam; serta Mbah Sukendar, Mbah Hendro, dan Mbah Gama—yang dikenal sebagai sesepuh dan penjaga pusaka. Konon, pusaka keramat milik Ki Ageng Durahman ikut dimakamkan bersama Mbah Gama .
Kawasan ini juga menyimpan jejak masa lalu lebih awal, berupa peninggalan berupa lingga dan yoni yang tersembunyi di balik pepohonan tua, bukti adanya kehidupan dan kebudayaan jauh sebelum Islam masuk.
*Makam Mbah Suro Dikoro Hadiningrat dan Ki Karyadi, Saksi Sejarah Kalisapu
Di Desa Kalisapu, Kecamatan Slawi, terdapat makam kuno lain yang tak kalah bersejarah, yakni Makam Mbah Suro Dikoro Hadiningrat dan Mbah Ki Karyadi. Makam ini berada di lingkungan pemakaman umum warga, namun memiliki ciri khas nisan berbahan batu granit kuno dengan ukiran khas zaman dahulu, berbeda dengan bentuk nisan masa kini.
Mbah Suro Dikoro Hadiningrat dipercaya pernah menjabat sebagai Kuwu atau kepala desa Kalisapu pada masa lalu, sementara Ki Karyadi adalah tokoh masyarakat setempat yang hidup sezaman dan sangat dihormati. Kedua makam ini menjadi penanda sejarah pemerintahan lokal dan kehidupan sosial masyarakat Kalisapu ratusan tahun silam.
*Makam Syekh Atas Angin, Misteri Candi di Pedagangan
Tak jauh dari pusat kota Slawi, tepatnya di Desa Pedagangan, terdapat kompleks pemakaman yang dikenal sebagai Makam Syekh Atas Angin, juga dijuluki Candi Pedagangan atau Candi Bulus. Lokasinya hanya sekitar 1,5 kilometer ke arah barat pusat kota, berdekatan dengan Jalan Raya Slawi–Jatibarang.
Kisah unik menyelimuti situs ini: dulunya terdapat bangunan candi yang masih utuh hingga tahun 1960-an, namun mengalami kerusakan parah pada tahun 1965 dan nyaris tertimbun tanah. Barulah pada tahun 2005 situs ini kembali ditemukan dan mulai dirawat warga. Keberadaannya menggambarkan perpaduan sejarah panjang—dari masa sebelum Islam hingga masuknya ajaran Islam di wilayah tersebut.
*Nilai Warisan dan Tradisi Ziarah
Makam-makam keramat di Slawi bukan hanya objek sejarah, melainkan bagian hidup dari kearifan lokal masyarakat setempat. Setiap tahun, saat peringatan Hari Jadi Kabupaten Tegal, para pejabat daerah dan warga umum berziarah ke makam-makam tokoh pendiri dan penyebar agama sebagai bentuk penghormatan dan mengenang jasa para leluhur .
“Kawasan Slawi dan sekitarnya memiliki puluhan situs makam kuno yang menyimpan kisah sejarah penyebaran Islam, pembangunan wilayah, hingga jejak kebudayaan masa lampau. Ini adalah harta budaya yang harus terus dijaga dan diwariskan,” ujar salah satu tokoh budaya setempat.
Hingga kini, setiap hari, terutama pada hari-hari besar dan malam Jumat, peziarah dari berbagai daerah datang ke makam-makam keramat ini—bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga mengenang sejarah panjang bagaimana Islam menyebar damai dan membangun peradaban di tanah Tegal.
Penulis: [D. Miranoor]
Sumber: Berbagai dokumentasi sejarah lokal, wawancara tokoh masyarakat, dan catatan cagar budaya daerah.















