Tanaman Jagung program ketahanan pangan nasional di Desa Bantar Panjang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang kondisinya kering dan busuk. Tanaman yang seharusnya tumbuh subur justru tampak terbengkalai, jauh dari klaim keberhasilan yang disampaikan dalam pemberitaan seremonial sebelumnya.
Lokasi tersebut sebelumnya dikunjungi oleh Wakil Presiden (Wapres), Gibran Rakabuming Raka bersama jajaran menteri hingga Kapolri, Jendral Listyo Sigit Prabowo dalam rangka penanaman jagung serentak kuartal IV yang diinisiasi Polri.

Program penanaman jagung serentak di Kabupaten Tangerang* yang digadang-gadang sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional kini dipertanyakan keras.
Aktivis Tangerang, Gandi Sadewa, menyebut program tersebut gagal total di lapangan dan patut diduga hanya menghabiskan anggaran negara tanpa hasil nyata. Pantauan langsung di lokasi menunjukkan kondisi tanaman jagung kering, menguning, dan tidak berkembang.
“Ini gagal total. Kalau jagungnya mati seperti ini, lalu di mana ketahanan pangannya? Yang hidup justru acaranya, bukan tanamannya,” katanya, Sabtu (27/12/2025).
Seremoni Negara, Realitas Lapangan Memprihatinkan
Gandi menilai program tanam jagung lebih menonjolkan agenda simbolik dan pencitraan pejabat, sementara aspek teknis pertanian dan keberlanjutan sama sekali diabaikan. Menurutnya, kegiatan ini hanya berhenti pada penanaman awal tanpa pengawalan hingga panen.
“Negara hadir lengkap, pejabat datang, kamera menyala. Tapi setelah itu lahan dibiarkan. Kalau hasilnya mati seperti ini, publik berhak menyebut program ini gagal,” ucapnya. Anggaran Besar, Hasil Nol
Meski angka anggaran tidak pernah dibuka secara rinci, Gandi menegaskan mustahil kegiatan skala nasional dengan pelibatan banyak institusi negara tidak menyedot anggaran besar. Mulai dari pengadaan benih, pupuk, alat, logistik, hingga biaya kegiatan.
“Kalau uang rakyat dipakai tapi jagungnya mati, itu bukan sekadar gagal teknis. Itu pemborosan anggaran. Dan pemborosan ini bentuk pengkhianatan terhadap kepentingan publik,” tegasnya.
Petani dan Warga Tangerang Dirugikan
Gandi menyebut, kegagalan ini bukan sekadar soal tanaman, tetapi berdampak langsung pada petani lokal dan masyarakat Tangerang yang dijadikan objek program nasional tanpa kepastian hasil. “Petani dijanjikan ketahanan pangan, yang datang justru lahan gagal panen. Tangerang jangan dijadikan panggung proyek nasional yang hasilnya nihil,” katanya.
Desak Audit dan Hentikan Proyek Serupa
Aktivis Tangerang mendesak:
Audit menyeluruh atas program tanam jagung di Kabupaten Tangerang.
Pembukaan total anggaran dan mekanisme pelaksanaan program.
Penghentian program tanam simbolik yang tidak berbasis kesiapan lahan dan pendampingan serius.
“Kalau negara serius soal pangan, ukurannya panen, bukan publikasi. Selama jagung di Tangerang gagal, klaim keberhasilan itu bohong,” tutup Gandi.















