Anak Gunung Krakatau Meletus, Abu Vulkanik Meluas hingga Wilayah Jakarta

Senin, 7 September 2026 - 12:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SELANDA SUNDA, Dinamikanews.net – Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, berbatasan antara Provinsi Lampung dan Banten, kembali mengalami erupsi besar. Aktivitas vulkanik meningkat tajam sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB, berlanjut hingga Sabtu dini hari, dan berlangsung menerus selama lebih dari 25 jam hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB .

Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, kolom abu vulkanik terlempar setinggi 13–14 kilometer ke udara, bahkan diduga menembus lapisan tropopause. Material letusan menyebar luas hingga ke wilayah Jakarta, Banten, dan pesisir Lampung Selatan . Akibat tebalnya abu di udara, Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat menutup operasi sementara pada Sabtu sore hingga malam hari, menyebabkan puluhan penerbangan tertunda maupun dibatalkan .

Baca Juga :  Sejumlah 9 Warga Brebes Berhasil Dipulangkan Dari Korban Perbudakan Kerja

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, erupsi kali ini dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami seperti peristiwa tragis Desember 2018. “Perbedaan utamanya adalah tidak terjadi keruntuhan besar tubuh gunung ke dalam laut, yang menjadi penyebab utama tsunami saat itu. Struktur gunung saat ini sudah berbeda dan lebih stabil,” tegasnya .

Status aktivitas Anak Krakatau tetap berada di Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Pihak berwenang mengimbau masyarakat, nelayan, maupun wisatawan dilarang mendekat dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Penduduk sekitar diminta tetap waspada terhadap hujan abu dan debu vulkanik, serta menggunakan pelindung pernapasan bila berada di luar ruangan .

Baca Juga :  Polisi Tangkap Pelaku pencurian sepeda motor di Pal merah

*Sekilas Sejarah Singkat

Anak Krakatau lahir dari sisa kaldera letusan dahsyat Gunung Krakatau tahun 1883. Aktivitas pertama tercatat di dasar laut pada akhir 1927, lalu muncul ke permukaan pada 11 Juni 1929. Sejak itu ia terus tumbuh dan menjadi gunung api aktif yang selalu dipantau ketat. Erupsi besar terakhir yang mengguncang adalah tahun 2018, saat sebagian tubuhnya longsor ke laut dan memicu tsunami yang menewaskan ratusan jiwa di pesisir Banten dan Lampung .

Hingga saat ini, aktivitas vulkanik masih berlanjut dalam skala lebih kecil namun tetap dipantau terus-menerus. Masyarakat diimbau mengikuti perkembangan informasi resmi dari PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.

(D. Miranoor)

Berita Terkait

Sijago Merah Melumat Rumah Seorang Nelayan, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta
Jerat Berbahaya Judi Online — Dampak Negatif yang Mengancam Kehidupan
Ketua LSM Satu Bumii Satu Negeri Mengecam Keras Kasus Ayah Tiri Cabuli Anak Selama 5 Tahun Dibantu Ibu Kandung di Salembaran Jaya Kabupaten Tangerang
Pratisi Hukum Kabupaten Tangerang Minta APH Tindak Tegas Aksi Demo Anarkis di PEMI AW
Demo PT Pemi AW Balaraja Disertai Pengrusakan, Pemerhati Hukum Minta APH Tindak Tegas
Musim Kemarau, 85 KK di Kecamatan Legok Alami Krisis Air Bersih
Operasi Berantas Jaya 2026: Polsek Curug Kembalikan Dua Motor Hasil Ungkap Kasus Curat kepada Korban
Bermain Rakit, 2 Remaja Hilang Terbawa Arus Sungai di Pringsewu

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 12:51 WIB

Anak Gunung Krakatau Meletus, Abu Vulkanik Meluas hingga Wilayah Jakarta

Minggu, 6 September 2026 - 09:44 WIB

Sijago Merah Melumat Rumah Seorang Nelayan, Kerugian Ditaksir Ratusan Juta

Sabtu, 5 September 2026 - 04:56 WIB

Jerat Berbahaya Judi Online — Dampak Negatif yang Mengancam Kehidupan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 10:36 WIB

Ketua LSM Satu Bumii Satu Negeri Mengecam Keras Kasus Ayah Tiri Cabuli Anak Selama 5 Tahun Dibantu Ibu Kandung di Salembaran Jaya Kabupaten Tangerang

Senin, 20 Juli 2026 - 17:29 WIB

Pratisi Hukum Kabupaten Tangerang Minta APH Tindak Tegas Aksi Demo Anarkis di PEMI AW

Berita Terbaru