SELANDA SUNDA, Dinamikanews.net – Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, berbatasan antara Provinsi Lampung dan Banten, kembali mengalami erupsi besar. Aktivitas vulkanik meningkat tajam sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB, berlanjut hingga Sabtu dini hari, dan berlangsung menerus selama lebih dari 25 jam hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB .
Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, kolom abu vulkanik terlempar setinggi 13–14 kilometer ke udara, bahkan diduga menembus lapisan tropopause. Material letusan menyebar luas hingga ke wilayah Jakarta, Banten, dan pesisir Lampung Selatan . Akibat tebalnya abu di udara, Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat menutup operasi sementara pada Sabtu sore hingga malam hari, menyebabkan puluhan penerbangan tertunda maupun dibatalkan .
Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan, erupsi kali ini dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami seperti peristiwa tragis Desember 2018. “Perbedaan utamanya adalah tidak terjadi keruntuhan besar tubuh gunung ke dalam laut, yang menjadi penyebab utama tsunami saat itu. Struktur gunung saat ini sudah berbeda dan lebih stabil,” tegasnya .
Status aktivitas Anak Krakatau tetap berada di Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026. Pihak berwenang mengimbau masyarakat, nelayan, maupun wisatawan dilarang mendekat dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Penduduk sekitar diminta tetap waspada terhadap hujan abu dan debu vulkanik, serta menggunakan pelindung pernapasan bila berada di luar ruangan .
*Sekilas Sejarah Singkat
Anak Krakatau lahir dari sisa kaldera letusan dahsyat Gunung Krakatau tahun 1883. Aktivitas pertama tercatat di dasar laut pada akhir 1927, lalu muncul ke permukaan pada 11 Juni 1929. Sejak itu ia terus tumbuh dan menjadi gunung api aktif yang selalu dipantau ketat. Erupsi besar terakhir yang mengguncang adalah tahun 2018, saat sebagian tubuhnya longsor ke laut dan memicu tsunami yang menewaskan ratusan jiwa di pesisir Banten dan Lampung .
Hingga saat ini, aktivitas vulkanik masih berlanjut dalam skala lebih kecil namun tetap dipantau terus-menerus. Masyarakat diimbau mengikuti perkembangan informasi resmi dari PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat.
(D. Miranoor)















