BREBES, Dinamikanews.net — Desa Randusanga Kulon yang terletak di Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menyimpan sejarah panjang yang berakar pada masa penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Nama desa ini sendiri mengandung makna sejarah yang mendalam, berasal dari gabungan kata bahasa Jawa: “Randu” atau “Randa” berarti bekas, dan “Sanga” berarti sembilan. Secara keseluruhan, Randusanga bermakna “bekas musyawarah Walisanga” .
Menurut cerita tutur yang diwariskan turun-temurun dan diperkuat keterangan Juru Kunci Makam Syekh Junaedi Al-Baghdadi, Syakhur Romli, konon dahulu para Walisongo sempat singgah dan bermusyawarah di wilayah ini sebelum melanjutkan perjalanan ke arah Cirebon. Ketika ulama besar bernama Syekh Junaedi — yang diperkirakan hidup sezaman dengan Walisongo dan berasal dari Baghdad — tiba di tempat tersebut, para Wali sudah berangkat, sehingga yang tersisa hanyalah bekas jejak pertemuan mereka. Dari peristiwa inilah lahirlah nama Randusanga.
Syekh Junaedi kemudian menetap di wilayah itu dan berperan besar dalam penyebaran ajaran Islam di kawasan pesisir Brebes. Makam beliau hingga kini masih dihormati dan menjadi tempat ziarah, terletak di wilayah Desa Randusanga Wetan — desa saudara yang terpisah dari induknya.
Seiring berjalannya waktu dan pertumbuhan penduduk, wilayah Randusanga yang dulunya satu kesatuan, akhirnya terbagi menjadi dua desa sekitar abad ke-19. Wilayah sebelah barat dinamakan Randusanga Kulon, sedangkan sebelah timur disebut Randusanga Wetan. Kata “Kulon” sendiri dalam bahasa Jawa berarti barat, menandakan posisi geografisnya .
Secara administratif, Randusanga Kulon memiliki luas wilayah sekitar 1.392 hektare, di mana sekitar 80 persen berupa perairan dan sisanya daratan. Wilayahnya membentang dari pinggiran Laut Jawa di utara hingga batas Kelurahan Limbangan Wetan di selatan, berbatasan dengan Randusanga Wetan di timur, serta Kedunguter, Pagejugan, dan Kaliwlingi di barat. Desa ini terbagi menjadi 3 dusun — Randusanga, Sigempol, dan Banjangsari — dengan populasi sekitar 9.300 lebih jiwa .
Dari masa lalu yang penuh nilai sejarah dan keagamaan, Randusanga Kulon kini berkembang menjadi desa pesisir yang mandiri dan unggul. Mata pencaharian warga bertransformasi dari tradisional menjadi budidaya rumput laut jenis Gracilaria Verrucosa, menjadikannya sentra produksi rumput laut terbesar di Jawa Tengah, dengan hasil panen hingga 100 ton per hari. Prestasi ini bahkan membawa desa ini masuk ke dalam 15 besar ajang Desa BRILiaN tingkat nasional tahun 2024.
Kendati menghadapi tantangan abrasi pantai dan banjir rob, masyarakat Randusanga Kulon tetap melestarikan warisan leluhur sekaligus berinovasi memajukan ekonomi desa. Sejarah “bekas musyawarah” yang menjadi asal muasal namanya, kini bermetamorfosis menjadi semangat kebersamaan warga dalam membangun desa yang maju, lestari, dan berbudaya.
(D. Miranoor)















