Brebes, Dinamikanews.net — Kecamatan Losari yang terletak di ujung paling barat Kabupaten Brebes, berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat, menyimpan sejarah panjang dan berharga, mulai dari masa pelabuhan perdagangan kuno, masa penyebaran Islam, hingga masa kolonial dan kemerdekaan.
*Asal-Usul Nama Losari
Nama Losari diyakini berasal dari kata “Pulosaren” — gabungan kata pulo (tanah/pulau kecil) dan sarean (tidur/beristirahat), yang merujuk pada makam Pangeran Angkawijaya atau Panembahan Losari, cucu Sunan Gunung Jati, yang wafat di wilayah ini pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Desa Losari Lor. Sebelum bernama Losari, wilayah ini dikenal sebagai Desa Madenda, lalu Desa Pakuwon, dan merupakan kawasan pelabuhan yang sudah ramai dikunjungi pedagang sejak abad ke-15.
*Pelabuhan Kuno dan Jejak Perdagangan
Sejak abad ke-15, Losari — yang dahulu disebut Locarij — telah menjadi pelabuhan penting di Pantai Utara Jawa, di bawah penguasa Kerajaan Demak. Wilayah ini menjadi pintu masuk perdagangan sekaligus gerbang penyebaran agama Islam di wilayah Brebes dan sekitarnya. Di pinggir Sungai Cisanggarung pun sudah berdiri komunitas etnis Tionghoa sejak zaman Kerajaan Demak, menjadikannya salah satu kampung pecinan tertua di wilayah Brebes .
*Peran Pangeran Angkawijaya dalam Penyebaran Islam
Pangeran Angkawijaya (lahir 1518 M) adalah cucu Sunan Gunung Jati, putra Pangeran Pasarean dan Ratu Nyawa dari keturunan Raja Demak. Beliau diutus menyebarkan Islam ke wilayah timur Kesultanan Cirebon, yakni Losari. Selain berdakwah, beliau dikenal sebagai pencipta motif batik Mega Mendung dan Gringsing, serta kereta kencana Paksi Naga Liman yang kini tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon. Wafat tahun 1580, dimakamkan di kompleks Makam Pulosaren, yang hingga kini menjadi situs cagar budaya dan tempat ziarah .
*Masa Kolonial Belanda
Pada abad ke-19, Losari masuk dalam wilayah kekuasaan kolonial Hindia Belanda, semula di bawah Residensi Tegal, lalu sejak 1905 masuk Residensi Pekalongan sebagai onderdistrict (kawedanan) dalam distrik Tandjung. Sistem pemerintahan pribumi tetap dipertahankan namun di bawah pengawasan Belanda. Pada masa itu juga berdiri Pondok Pesantren Yanbu’ul Ulum (Pesantren Lumpur) di Dusun Lumpur, Desa Limbangan, yang didirikan tahun 1874 oleh KH. Idris bin Ahmad Sholeh dan menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Brebes.
*Masa Kemerdekaan Hingga Kini
Setelah Indonesia merdeka, Losari ditetapkan sebagai Kecamatan di Kabupaten Brebes. Letaknya yang strategi di jalur Pantura menjadikan Losari terus berkembang sebagai kawasan pertanian, perdagangan, dan jasa. Setiap tahun digelar Kirab Budaya Pangeran Angkawijaya sebagai bentuk pelestarian sejarah sekaligus mempererat hubungan budaya antara Cirebon dan Brebes.
Losari bukan sekadar nama kecamatan di ujung barat Brebes. Ia adalah saksi bisu perjalanan perdagangan, dakwah Islam, perpaduan budaya, dan perjuangan yang terus mengalir seperti Sungai Cisanggarung yang membelahnya.
(D. Miranoor)















