dinamikanews.net – Kementerian Transmigrasi memperkenalkan paradigma baru pembangunan kawasan transmigrasi dengan menyatukan kekuatan perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat transmigrasi. Melalui sinergi tersebut, kawasan transmigrasi diproyeksikan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang ditopang inovasi, investasi, serta akses pasar yang terintegrasi.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, pembangunan transmigrasi tidak lagi hanya berorientasi pada penyediaan lahan dan permukiman. Kini, yang dibangun adalah ekosistem ekonomi yang menghubungkan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dan pasar.
“Kami punya dua kekuatan: lahan dan tenaga kerja, yaitu para transmigran. Namun, kami juga punya tiga kekurangan. Pertama, ilmu pengetahuan dan teknologi yang kami hadirkan melalui kerja sama dengan kampus. Kedua, modal yang kami datangkan melalui investasi dunia usaha. Ketiga, offtaker atau akses pasar yang juga kami bangun bersama dunia usaha. Kalau tiga kekurangan ini bisa kami lengkapi, maka lahan dan para transmigran akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Menteri Iftitah, Selasa (7/7).
Menurutnya, sinergi tersebut menjadi fondasi transformasi transmigrasi. Sepuluh perguruan tinggi mitra diterjunkan melalui Program Transmigrasi Patriot untuk melakukan riset, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menyusun feasibility study yang dapat ditawarkan kepada calon investor.
“Kami melibatkan sepuluh kampus mitra agar kawasan transmigrasi menjadi laboratorium hidup. Dari sana lahir inovasi, teknologi, dan berbagai solusi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.
Hasil riset tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan proyek-proyek investasi yang siap ditawarkan kepada dunia usaha, sehingga setiap kawasan memiliki arah pengembangan yang jelas dan berbasis potensi unggulannya.
“Inilah cara kami membangun transmigrasi baru: kampus menghadirkan ilmu pengetahuan, dunia usaha membawa investasi dan pasar, sementara masyarakat transmigrasi menjadi pelaku utama pembangunan,” katanya.
Menteri Iftitah menegaskan, pendekatan baru transmigrasi tidak lagi berhenti pada pembagian lahan atau bantuan produksi. Seluruh rantai nilai ekonomi dibangun secara terpadu, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, masuknya investasi, hingga tersedianya kepastian pasar.
Sebagai contoh, Kementerian Transmigrasi telah membuka akses ekspor durian dari kawasan transmigrasi di Parigi Moutong ke pasar Tiongkok. Langkah tersebut meningkatkan harga yang diterima petani secara signifikan.
“Sekarang kami membuka akses offtaker sampai ke Tiongkok. Dampaknya, harga durian yang diterima petani meningkat lima hingga enam kali lipat,” ungkapnya.
Selain memperkuat akses pasar, Kementerian Transmigrasi juga mengembangkan setiap kawasan sesuai potensi unggulannya, baik di sektor industri, pariwisata, energi, pertanian, maupun sektor strategis lainnya. Seluruh pengembangan dilakukan berdasarkan kajian ilmiah dan kebutuhan investasi agar mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat transmigrasi maupun masyarakat lokal.















