Jakarta, Dinamikanews.net – Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Alin Fithor, menyampaikan terdapat sembilan jenis tumbuhan mangrove asal Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Aceh yang memiliki potensi sebagai tanaman obat.
Alin menjelaskan sembilan jenis tumbuhan mangrove tersebut terdiri atas tujuh mangrove sejati dan dua tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove.
“Tumbuhan jenis mangrove sejati yaitu Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. Sedangkan tumbuhan yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove yaitu Acanthus ilicifolius dan Nypa fruticans,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Jumat (23/10).
Alin menjelaskan masyarakat lokal telah lama memanfaatkan tumbuhan dari hutan mangrove untuk membantu menjaga kesehatan mereka, terutama pada bagian daun dan buahnya.
Pemanfaatan tersebut mencakup berbagai keluhan kesehatan seperti memar, luka bakar, cacar air, demam, diare, gatal-gatal, luka pada kulit, sakit perut, sariawan, dan sakit gigi.
“Salah satu tanaman yang dimanfaatkan masyarakat adalah Rhizophora apiculata atau bakau. Masyarakat menggunakan bagian daun dan buahnya untuk membantu mengatasi sariawan, sakit gigi, dan luka. Sementara itu, Rhizophora mucronata dimanfaatkan untuk diare, sakit perut, dan luka pada kulit,” ujarnya.
Alin menyebutkan terdapat kandungan sejumlah senyawa bioaktif pada tanaman mangrove. Peneliti mencatat adanya senyawa seperti alkaloid, fenolik, steroid, terpenoid, flavonoid, dan saponin. Senyawa tersebut memiliki potensi dalam aktivitas antibakteri, antikanker, antidiabetes, antijamur, antiinflamasi, antitumor, dan antivirus.
“Meskipun demikian, kami membedakan tanaman obat tradisional dengan tanaman yang telah terbukti secara ilmiah memiliki khasiat medis. Oleh karena itu, potensi tanaman mangrove sebagai bahan obat masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menguji efektivitas farmakologisnya,” ucapnya menjelaskan.
Maka dari itu, Alin menyoroti ancaman terhadap habitat mangrove. Penebangan dan pembangunan kawasan pesisir dapat menyebabkan hilangnya habitat dan mengganggu keberlangsungan ekosistem mangrove.
Penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Biodiversitas Journal of Biological Diversity Volume 27 Nomor 3 pada Maret 2026 dengan judul Species Composition and Medicinal Uses of Mangrove Plants in Southwest Aceh, Indonesia. Adapun tim peneliti terdiri dari Alin Fithor, Wintah, Moh. Husein Sastranegara, dan Kiswanto.















