Orientasi Pendidikan Nasional Indonesia Semakin Kapitalistik

Kamis, 11 Juli 2024 - 21:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, lensabumi.com- Pembenaran terhadap kesulitan mahasiswa untuk mengatasi biaya kuliahnya dengan menggunakan Pinjol (Pinjaman Online) jelas bukan hanya tidak mendidik, tetapi sekaligus membiarkan mahasiswa terlibat dalam hutang yang menjadi beban tambahan akibat dikenakan bunga yang relatif cukup besar.

Kecuali itu, pembiaran mahasiswa mengatasi masalah pembiayaan kuliahnya dengan Pinjol, artinya bisa dipahami sebagai upaya mengelak dari kewajiban memberi bantuan terhadap mahasiswa yang mengalami kesulitan. Dan akibatnya, mahasiswa akan semakin mendapat beban tambahan, karena harus memikirkan juga tanggungan pinjaman yang harus dilunasi dalam waktu tertentu, atau semakin mendapat beban bunga berbunga tambahan. Maklumlah, orientasi dari usaha Pinjol tak hirau pada nilai-nilai sosial, karena semata-mata bertujuan komersial, mencari keuntungan finansial.

Jadi, pembiaran atau bahkan dorongan, seperti yang dikatakan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI, Prof. Muhadjir Effendi yang mendukung wacana pemanfaatan Pinjol yang diungkapkan DPR RI kepada Kemendikbudristek RI untuk menggaet BUMN terkait upaya pemberian dana biaya untuk kuliah, jelas tidak tidak seirama dengan upaya pembangunan manusia dan budaya bangsa Indonesia yang harus mandiri dan terbebas dari segala beban yang memberatkan segenap anak warga bangsa Indonesia yang diamanatkan oleh UUD 1945 agar cerdas dan bebas dari kemiskinan.

Baca Juga :  Tanggapan Cepat Soal Pajak Kendaraan, Gubernur Jateng: Pemerintah Daerah Tetap Memiliki Ruang Kebijakan Penyesuaian

Heboh biaya kuliah yang mahal semakin menegaskan bahwa orientasi pendidikan nasional Indonesia tidak lagi mengemban tugas mulianya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang termaktub dalam tujuan kemerdekaan bangsa untuk membebaskan seluruh rakyat dari kebodohan, ketertinggalan dan kemiskinan hingga seabab Indonesia merdeka untuk memasuki era Indonesia Emas (2045), sungguh tidak sejalan dengan apa yang disesumbarkan oleh pemerintah.

Semangat komersialisasi perguruan tinggi sungguh sangat memprihatinkan, dimana hasrat untuk menyongsong era Indonesia Emas setelah 100 tahun kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia dijalankan, terkesan tidak kunjung mengendus upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengatasi masalah fakir miskin dan warga masyarakat yang terlantar. Lalu apa, sesungguhnya makna kemerdekaan bagi segenap warga Bangsa Indonesia, bila tingkat kecerdasan dan angka kemiskinan masih menjadi persoalan yang tidak mampu diselesaikan?

Baca Juga :  Kesehatan Kunci Utama Penopang Aktivitas, Brebes Butuh Pimpinan Berintegritas, Kinerja Heru Padmonobo Bisa Jadi Panutan

Sungguh ironis dan tragis. Apalagi jika disanding dengan kesenjangan yang sangat abai pada masalah keadilan, antara masyarakat yang miskin dengan mereka yang kaya raya dengan hasil korupsi, bukan atas dasar usaha dan jerih payah kerja yang baik dan benar.

Orientasi material yang telah merasuk pada ranah pendidikan di Indonesia, adalah buah dari sikap dan sifat kapitalistik yang jauh dari nilai-nilai spiritual sebagai penjaga etika, moral dan akhlak mulia manusia. Lantaran pemahaman terhadap hablum minallah, hablum minannas tidak mau dan tidak mampu membumi di negeri ini. (Oleh : Jacob Ereste)

Berita Terkait

Dinilai Cocok dan Butuh Perubahan, Praktisi Hukum Turnya Resmi Mundur Dari Gerindra Gabung PSI
Tanggapan Cepat Soal Pajak Kendaraan, Gubernur Jateng: Pemerintah Daerah Tetap Memiliki Ruang Kebijakan Penyesuaian
Lapo Tuak Bukan Sekadar Tempat Kumpul, Tetapi Ruang Edukasi dan Silaturahmi
Peluang dan Limitasi Restorative Justice dalam Tindak Pidana Dugaan Penganiayaan, Terhadap Anggota Banser oleh Oknum Habib Yang Berinisial HBS
Selamat Hari Pers Nasional 2026, Shintya Sandra Kusuma: Pers Adalah Mitra Strategis Rakyat Yang Utama 
Fajar Adi Widiarso Pimpin Disbudpar Brebes, Dengan Jabatan Baru Siap Mengemban Tantangan Baru 
Sosok Dokter Teladan Nasional drg. Adhi Supriadi Kini Pimpin RSUD Brebes, Tingkatkan Pelayanan Prioritas Utama
Kesehatan Kunci Utama Penopang Aktivitas, Brebes Butuh Pimpinan Berintegritas, Kinerja Heru Padmonobo Bisa Jadi Panutan

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 10:37 WIB

Dinilai Cocok dan Butuh Perubahan, Praktisi Hukum Turnya Resmi Mundur Dari Gerindra Gabung PSI

Selasa, 24 Februari 2026 - 13:22 WIB

Tanggapan Cepat Soal Pajak Kendaraan, Gubernur Jateng: Pemerintah Daerah Tetap Memiliki Ruang Kebijakan Penyesuaian

Minggu, 22 Februari 2026 - 00:04 WIB

Lapo Tuak Bukan Sekadar Tempat Kumpul, Tetapi Ruang Edukasi dan Silaturahmi

Sabtu, 14 Februari 2026 - 12:47 WIB

Peluang dan Limitasi Restorative Justice dalam Tindak Pidana Dugaan Penganiayaan, Terhadap Anggota Banser oleh Oknum Habib Yang Berinisial HBS

Selasa, 10 Februari 2026 - 12:23 WIB

Selamat Hari Pers Nasional 2026, Shintya Sandra Kusuma: Pers Adalah Mitra Strategis Rakyat Yang Utama 

Berita Terbaru