Tangerang, Dinamikanews.net – Sebanyak 40 santri dari 29 kecamatan se-Kabupaten Tangerang menguji kemahiran membaca kitab ‘gundul’ Fathul Qorib dalam Musabaqah Kitab Kuning yang digelar DPC PKB Kabupaten Tangerang, Kamis (29/10/2026).
Suasana khidmat menyelimuti Kantor DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Tangerang. Di hadapan meja juri, para remaja berusia 15 hingga 25, tahun nampak tekun menatap barisan aksara Arab tanpa harakat. Mereka bukan sekadar membaca, melainkan sedang membedah isi Fathul Qorib, kitab rujukan ilmu fikih klasik yang menjadi napas pembelajaran di berbagai pondok pesantren.
Rapiudin Akbar, yang merupakan inisiator acara menjelaskan bahwa ajang ini merupakan upaya nyata menjaga marwah keilmuan pesantren.
Menurutnya, kemampuan membaca kitab kuning adalah identitas yang harus terus dihidupkan di tengah gempuran zaman digital. Melalui kompetisi ini, PKB ingin memastikan bahwa regenerasi ulama dan pemikir agama tidak terputus.
Langkah ini tidak berhenti di sini saja. Rapiudin membocorkan rencana besar untuk memperluas jangkauan pembinaan. Ke depan, mereka bersiap menggelar lomba hafalan Al-Qur’an hingga debat tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia. Tujuannya jelas, yakni mengasah ketajaman intelektual dan daya saing santri agar mampu berbicara banyak di kancah global.
Dengan program tersebut, DPC PKB Kabupaten Tangerang melalui Bendahara nya Rapiudin, menekankan bahwa penguasaan kitab kuning hanyalah satu sisi dari koin besar bernama pembangunan karakter.
Kami melihat kegiatan ini sebagai investasi jangka panjang bagi bangsa. PKB menaruh harapan besar agar para santri ini menjadi motor penggerak masyarakat yang memiliki fondasi moral kokoh.
“Melalui program tersebut, DPC PKB Kabupaten Tangerang berharap dapat mendorong lahirnya generasi muda yang berkarakter, berpengetahuan luas, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujar Rapiudin di sela-sela acara.
Lebih jauh, ia mengaitkan agenda ini dengan visi besar negara. Baginya, kecakapan ilmu agama yang dibarengi intelektualitas adalah modal utama menyambut masa depan.
“Pembinaan generasi muda ini juga diharapkan menjadi bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045, dengan mendorong lahirnya generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, memiliki landasan moral dan keagamaan yang kuat, serta mampu menghadapi perkembangan zaman,” pungkasnya.















