BREBES, Dinamikanews.net – Di tengah hamparan tambak warga di Desa Randusanga Wetan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, terdapat makam keramat yang menjadi saksi bisu sejarah penyebaran agama Islam di wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Makam tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir Syekh Junaedi Al-Baghdadi, seorang ulama dan waliyullah yang dipercaya berperan besar dalam menyebarkan ajaran Islam di daerah ini.
*Asal-Usul dan Kedatangan
Menurut catatan sejarah dan tradisi yang berkembang di masyarakat, Syekh Junaedi diperkirakan hidup pada masa yang sama dengan Walisongo, yakni sekitar abad ke-15 hingga ke-16 Masehi. Beliau berasal dari Baghdad, Irak, dan melakukan perjalanan dakwah hingga tiba di wilayah pesisir Brebes. Konon, kedatangan Syekh Junaedi ke Randusanga terjadi setelah para Wali sudah meninggalkan tempat tersebut dan melanjutkan syiar Islam ke arah Cirebon .
Kedatangan beliau erat kaitannya dengan asal-usul nama desa ini. Kata “Randusanga” berasal dari bahasa Jawa: randu atau randa berarti bekas, dan sanga berarti sembilan. Secara keseluruhan bermakna “bekas musyawarah Walisanga” — mengisyaratkan bahwa di tempat inilah para Wali pernah berkumpul, dan ketika Syekh Junaedi tiba, yang tersisa hanyalah jejak dan bekas pertemuan mereka .
*Misteri Penemuan Makam
Kisah penemuan makam ini menyimpan cerita yang menarik. Juru kunci makam, Syakhur Romli, menceritakan bahwa masyarakat sekitar dulunya belum mengetahui keberadaan makam tersebut. Penemuan bermula saat warga melihat keanehan: burung-burung yang terbang di atas wilayah itu sering jatuh ke tanah. Setelah diselidiki, warga menemukan gundukan tanah yang ternyata merupakan makam kuno, yang kemudian diyakini sebagai makam Syekh Junaedi.
Hingga kini, riwayat perjalanan hidup, kapan beliau tiba, dan kapan wafatnya belum tercatat secara rinci. Sosoknya tidak memiliki silsilah keturunan yang diketahui, namun keberadaan dan karomahnya terus diwariskan dari generasi ke generasi.
*Peran dan Warisan
Syekh Junaedi dikenal sebagai ulama yang gigih menyebarkan ajaran Islam di wilayah pesisir Brebes. Beliau berdakwah dengan cara lembut, mendekati masyarakat, dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan serta ketakwaan. Peran beliau menjadi jembatan dakwah yang meneruskan jejak yang pernah ditinggalkan Walisongo di daerah ini.
Makam yang terletak di lokasi agak terpencil, diapit tambak dan sawah, kini menjadi tujuan wisata religi. Setiap hari Selasa Kliwon dan malam Jumat, tempat ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Di komplek makam juga dibangun musala dan aula secara swadaya warga untuk kebutuhan ibadah dan istirahat peziarah.
*Tradisi dan Pelestarian
Setiap tahun, masyarakat setempat menggelar tradisi Kirab Ganti Kelambu dan peringatan Haul Syekh Junaedi, biasanya bertepatan dengan bulan Maulud Nabi. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi, melainkan sarana mempererat persaudaraan, menjaga nilai budaya, dan melestarikan sejarah daerah. Pemerintah Kabupaten Brebes pun turut memperhatikan pelestarian situs ini — pada tahun 2019 dilakukan renovasi kompleks makam agar semakin layak sebagai destinasi wisata religi dan pusat pembelajaran sejarah Islam ,.
*Makna Sejarah
Makam Syekh Junaedi bukan hanya bangunan batu dan tanah, melainkan bukti nyata bahwa penyebaran Islam di Nusantara berjalan berkelanjutan — dari jejak Walisongo hingga diteruskan oleh ulama-ulama pendatang yang memilih menetap dan berbakti di tanah Brebes. Keberadaannya juga menjadi identitas tersendiri bagi Desa Randusanga Wetan, yang selain terkenal dengan pantai dan kuliner lautnya, kini juga dijuluki sebagai desa bersejarah yang menyimpan warisan spiritual berharga bagi masyarakat Jawa Tengah.
(D. Miranoor)















