Jakarta, Dinamikanews.net – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mempersiapkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS) untuk memprediksi polusi udara dengan lebih akurat.
“EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan. Dengan mengetahui potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi di Jakarta, Sabtu.
Pengembangan EWS kualitas udara itu merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pemprov DKI dalam mengurangi dampak pencemaran udara dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini,” ujar Dudi.
Menurut Dudi, keberadaan sistem peringatan dini itu dapat memberikan manfaat besar, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak pencemaran udara.
Kelompok tersebut, antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, seperti asma dan gangguan paru-paru lainnya.
Dengan adanya informasi prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan mudah diakses, kata Dudi, masyarakat dapat mengambil berbagai langkah preventif saat kualitas udara diperkirakan memburuk, di antaranya menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, membatasi aktivitas fisik di area terbuka, dan mengurangi paparan terhadap polusi udara yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Ke depan, dia berharap EWS kualitas udara dapat menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat Jakarta dalam memantau kondisi udara secara real time maupun prediktif.
Dengan dukungan teknologi SILAM Urban, sambung dia, warga akan memiliki akses terhadap informasi kualitas udara yang lebih rinci, akurat, dan mudah dipahami sehingga dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko pencemaran udara.
Sementara itu, Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG Albert C Nahas menjelaskan SILAM Urban dikembangkan menggunakan berbagai data inventori emisi lokal yang mencakup emisi sektoral maupun emisi polutan.
Melalui pendekatan tersebut, sistem dapat menghasilkan prakiraan kualitas udara yang lebih akurat dan sesuai dengan kondisi nyata di wilayah Jakarta.
Menurut Albert, informasi yang disediakan melalui SILAM Urban tidak hanya terbatas pada prakiraan kualitas udara secara umum.
Informasi yang dihasilkan itu mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) hingga tiga hari ke depan, dan kondisi meteorologi.
“Termasuk peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari,” tutur Albert.
Pengembangan sistem prakiraan kualitas udara tersebut dilakukan BMKG melalui pemanfaatan teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial yang dikenal dengan nama Sistem Informasi dan Layanan Mahasiswa (SILAM) Urban.
Teknologi itu memungkinkan pemetaan kondisi polusi udara secara lebih rinci dengan cakupan seluruh wilayah Jakarta yang terdiri dari 44 kecamatan. Bahkan, sistem tersebut mampu memberikan informasi hingga radius satu kilometer, sehingga data yang disajikan lebih spesifik dan relevan bagi masyarakat.















