Banyaknya Perubahan Alih Fungsi Hutan, Sebagai Pemicu Utama Terjadinya Bencana Alam

Rabu, 7 Januari 2026 - 18:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Brebes, Dinamikanews.net – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX, Wahyudin Noor Aly alias Goyud, menyoroti maraknya bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini dan mengaitkannya dengan kerusakan lingkungan, khususnya di kawasan hutan lindung. Penjelasan tersebut disampaikan pada saat pertemuan dengan para kadernya di rumah makan D’Angklo Brebes, Rabu 7/1/2026.

Goyud menegaskan bahwa bencana alam tidak terjadi tanpa sebab. Ia mencontohkan kondisi di wilayah Sirampog, Kabupaten Brebes, yang pernah ia kunjungi sekitar setahun lalu. Menurutnya, secara kasat mata kawasan hutan tersebut tampak baik-baik saja dari luar, namun kenyataannya berbeda ketika masuk lebih dalam ke lereng hutan.

“Bencana itu ada penyebabnya. Di Brebes, tepatnya di wilayah Sirampog, setahun yang lalu saya berkunjung ke kawasan hutan. Dari depan tampak tidak ada apa-apa, tetapi setelah masuk ke lereng hutan lebih dalam, terjadi pembalakan secara masif untuk kepentingan tanaman pangan seperti kentang,” ujar Goyud.

Baca Juga :  Mohamad Jembar Resmi Pimpin GMPK Banten: Siap Perangi Korupsi 

Ia menjelaskan bahwa kawasan tersebut merupakan hutan lindung yang seharusnya berfungsi untuk melindungi lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem. Menurutnya, keberadaan tanaman keras di hutan sangat penting untuk menahan air dan mencegah bencana hidrologi.

“Padahal jelas hutan ini adalah kawasan hutan lindung yang fungsinya untuk melindungi. Tanaman keras itu berfungsi menahan air, jadi kita harus berpikir soal dampaknya,” lanjutnya.

Goyud juga mengungkapkan bahwa upaya reboisasi sebenarnya telah dilakukan, namun tidak berjalan optimal karena adanya penolakan dari sebagian warga. Ia menyebut tanaman yang sudah ditanam kembali justru dicabut.

Ia menilai kerusakan di kawasan hulu menjadi penyebab utama terjadinya bencana banjir bandang, seperti yang terjadi di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal.

“Sudah dilakukan reboisasi, tetapi dicabuti oleh warga. Peristiwa banjir bandang di Guci itu penyebabnya ya hulunya sudah rusak,” tegasnya.

Lebih lanjut, Goyud mengingatkan agar bencana tidak terus berulang dan menjadi ancaman rutin bagi masyarakat. Ia menyebut kerusakan lingkungan yang dibiarkan berlarut-larut bisa menjadi bom waktu.

Baca Juga :  Alami Tren Kenaikan, Menteri Anas Apresiasi Reformasi Birokrasi di Kemenko Marvest

“Jangan sampai bencana menjadi tamu rutin kita. Kalau tidak kita benahi, ini akan menjadi bom waktu,” katanya.

Sebagai langkah ke depan, Wahyudin berharap kawasan hutan lindung tersebut dapat dialihfungsikan menjadi kawasan taman nasional agar perlindungannya lebih kuat. Ia mengaku akan melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Kehutanan untuk mendorong rencana tersebut.

“Saya berharap kawasan hutan lindung ini bisa dialihfungsikan menjadi kawasan taman nasional. Saya akan melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Kehutanan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat melalui gerakan peduli lingkungan sebagai bagian dari mitigasi bencana. Menurutnya, kesadaran kolektif dalam menjaga alam menjadi kunci untuk mencegah bencana di masa depan.

“Gerakan peduli lingkungan perlu terus bergerak sebagai bentuk mitigasi,” pungkas Goyud .

(D. Miranoor)

Berita Terkait

RSUD Brebes Berpeluang Dapat Rp30 Miliar, Rencana Revitalisasi 2027 Diwarnai Polemik Relokasi SDN 01
Pererat Silaturahmi, Kelurahan Sawah Baru Gelar Senam Bersama dan Fun Walk
RSUD Bumiayu Tuntaskan Survei Akreditasi, Mutu Pelayanan dan Keselamatan Pasien Jadi Perhatian
IPDA Jaga Iklim Gelar Aksi Hijau; Tanam 3.000 Pohon Aren di Kawasan Mata Air Gununggiana
Jogging Track RTH Bumiayu Brebes Mulai Dibangun, Anggaran Rp375 Juta Jadi Sorotan Warga
BGN Tangguhkan 6.097 SPPG Tidak Tertib Sampaikan LPDH
PT Dwi Karya Bentonit Indonesia Sampaikan Hak Jawab, Bantah Pemberitaan Dugaan Pencemaran Lingkungan
Pemekaran Brebes Selatan Makin Dekat, Pegiat Siapkan Belasan Bus Menuju Semarang

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 10:03 WIB

RSUD Brebes Berpeluang Dapat Rp30 Miliar, Rencana Revitalisasi 2027 Diwarnai Polemik Relokasi SDN 01

Minggu, 1 November 2026 - 09:52 WIB

Pererat Silaturahmi, Kelurahan Sawah Baru Gelar Senam Bersama dan Fun Walk

Minggu, 1 November 2026 - 06:38 WIB

RSUD Bumiayu Tuntaskan Survei Akreditasi, Mutu Pelayanan dan Keselamatan Pasien Jadi Perhatian

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:18 WIB

IPDA Jaga Iklim Gelar Aksi Hijau; Tanam 3.000 Pohon Aren di Kawasan Mata Air Gununggiana

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:47 WIB

BGN Tangguhkan 6.097 SPPG Tidak Tertib Sampaikan LPDH

Berita Terbaru