Jakarta, Dinamikanews.net – Setelah lebih dari dua pekan menjadi bagian dari teka-teki hilangnya kapal cepat Arupadhatu I di perairan Selat Sunda, titik terang akhirnya muncul. Jenazah salah satu dari delapan orang yang hilang saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) teridentifikasi di Pulau Enggano, Bengkulu.
Jenazah tersebut adalah Surakman alias Sukarman (60), anak buah kapal (ABK) Arupadhatu I yang membawa lima wartawan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026). Identitas Surakman dipastikan melalui pencocokan DNA.
Sumber kepolisian menyebut hasil pemeriksaan DNA menunjukkan kesesuaian dengan data korban ABK bernama Sukarman. Hingga Rabu (23/9/2026), jenazah masih berada di Kota Bengkulu dan direncanakan akan diambil oleh jajaran Polairud untuk proses selanjutnya.
Surakman merupakan warga Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten. Ia dikenal cukup lama bersahabat dengan laut. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Surakman telah menjadi nelayan dan disebut sudah ratusan kali berlayar menuju kawasan Gunung Anak Krakatau maupun Ujung Kulon.
Namun, pelayaran pada 7 September lalu menjadi perjalanan terakhirnya.
Ditemukan di Pesisir Enggano
Jejak Surakman justru muncul jauh dari lokasi terakhir kapal tersebut diketahui berada, sekitar 300 km.
Jenazahnya sebetulnya telah ditemukan pada Sabtu (12/9/2026 di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Jenazah ditemukan Kantor SAR Bengkulu bersama warga setempat.
Saat pertama ditemukan, jenazah dengan tinggi badan sekitar 163 sentimeter dan mengenakan celana pendek selancar. Karena tidak ada warga Enggano yang melaporkan kehilangan anggota keluarga, jenazah sempat dimakamkan oleh masyarakat setempat.
Namun, temuan tersebut segera menjadi perhatian setelah dikaitkan dengan hilangnya delapan orang dalam kapal Arupadhatu I. Polda Banten kemudian berkoordinasi dengan Polda Bengkulu. Makam dibongkar kembali dan jenazah dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Bengkulu pada Senin (14/9/2026) menggunakan pesawat.
Di rumah sakit, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Bengkulu bersama Pusdokkes Polri melakukan autopsi dan pemeriksaan postmortem. Sampel tersebut kemudian dicocokkan dengan data antemortem keluarga para korban.
Pada awal proses pemeriksaan, aparat belum dapat memastikan bahwa jenazah tersebut merupakan bagian dari rombongan Arupadhatu I. Bahkan pada 15 September, Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad dan KBO Ditpolairud Polda Banten AKBP Ahmad menyatakan identitas masih didalami.
Pencocokan DNA menjadi kunci untuk memastikan identitas karena kondisi jenazah dan minimnya petunjuk identitas menyulitkan proses identifikasi secara visual. Kini teka-teki itu terjawab: jenazah tersebut adalah Surakman.

Berangkat Memburu Erupsi Krakatau
Arupadhatu I bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, sekitar pukul 14.00 WIB pada Senin, 7 September 2026. Di dalam kapal terdapat delapan orang. Lima di antaranya merupakan jurnalis yang hendak menjalankan tugas peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau, sedangkan tiga lainnya merupakan kru kapal.
Kelima wartawan tersebut adalah:
1. M. Bagus Khoirunnas, jurnalis foto Kantor Berita ANTARA;
2. Ari Basuki, Merdeka.com;
3. Yudhistiro Pranoto, iNews;
4. Firdaus Wajidi, Anadolu Agency;
5. Donal Husni, jurnalis lepas.
Sedangkan tiga kru kapal yakni Warta sebagai kapten, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu. Mereka berangkat ketika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sedang menjadi perhatian.
Perjalanan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran langsung aktivitas gunung api dari kawasan perairan Selat Sunda. Namun, perjalanan jurnalistik tersebut berubah menjadi operasi pencarian dan pertolongan berskala luas.















