Jakarta, Dinamikanews.net – KAI Commuter menyebutkan adanya gangguan sarana pada Commuter Line No. 1978A relasi Duri – Tangerang, sehingga mengakibatkan kereta itu terhenti di perlintasan sebidang RT 01/RW 11 Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa sore.
”Gangguan tersebut berdampak pada Listrik Aliran Atas (LAA) yang harus dipadamkan, sehingga jalur hulu Duri- Rawabuaya belum dapat dilalui,” kata Manager Public Relations KAI Commuter, Leza Arlan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa malam.
Pihaknya pun meminta maaf atas insiden tersebut. Petugas gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan cepat dan menormalisasi jalur.
”Commuter Line No. 1978A akan digandeng dengan Commuter Line No. 1980A menuju jalur tiga Stasiun Rawa Buaya untuk pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.
Akibat proses evakuasi dan pemadaman listrik aliran atas tersebut, sejumlah perjalanan Commuter Line lintas Duri- Tangerang mengalami penyesuaian operasional dan keterlambatan.
Pihak KAI Commuter mengimbau kepada seluruh penumpang untuk tetap tenang, mengikuti arahan petugas di lapangan, dan selalu mengutamakan keselamatan.
”Untuk informasi update secara berkala melalui akun resmi media sosial @commuterline dan aplikasi C-Access serta call center 121,” tutup Leza.
Sebelumnya, penumpang kereta rel listrik (KRL) Commuter Line lintas jurusan Duri-Tangerang mendengar tiga kali ledakan sebelum akhirnya kereta itu tiba-tiba terhenti di perlintasan sebidang RT 01 / RW 11 Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat pada Selasa sore.
“Tadi dengar ada ledakan. Jadi ledak gitu, (kereta) mati, (kereta) hidup lagi, ledak lagi, terus mati, hidup, ledak lagi, terus mati lagi. Enggak lama, kereta berhenti sampai sekarang. Ledakannya dari dalam KRL, kayak ‘dug’ gitu bunyinya,” kata Tasya (25) kepada wartawan di lokasi.
Ledakan itu, kata Tasya, turut membuat lampu di dalam gerbong ikut mati. Para penumpang KRL sontak histeris saat insiden bunyi ledakan itu terjadi.
Karena kejadian itu, Tasya bersama sebagian penumpang lain akhirnya memilih turun lantaran takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Saya kan berangkat dari Kampung Bandan mau ke Tangerang. Tadi turun di sini (perlintasan sebidang RT 01 / RW 11 Rawa Buaya). Pintunya (KRL) terbuka akhirnya tadi,” kata Tasya.
Hal senada disampaikan oleh penumpang lain bernama Butar (45) Ia tengah berada di gerbong tiga saat insiden ledakan terjadi.
“Saya tadi di gerbong tiga, terus dengar ada ledakan dari gerbong tiga. Tiga kali (bunyi ledakan), sekitar jam 17.00 tadi,” kata Butar.
Ia pun segera berpindah dari gerbong tiga ke paling depan pascaledakan itu. Bersama sebagian penumpang lain, Butar memilih untuk bertahan di dalam gerbong sampai kereta bisa bergerak kembali.















