Lapo tuak sering dipandang hanya sebagai tempat berkumpul untuk melepas penat.
Padahal, lebih dari itu, lapo tuak memiliki nilai sosial yang kuat sebagai ruang diskusi,
berbagi pengalaman, dan mempererat silaturahmi antar sesama.
Secara budaya, tradisi ini telah lama hidup dalam masyarakat Batak di wilayah
Sumatera Utara. Di tempat sederhana inilah percakapan bermakna sering lahir—membahas
adat, keluarga, pekerjaan, hingga persoalan sosial. Nilai kebersamaan dan rasa saling
menghormati menjadi fondasi utama dalam setiap pertemuan.
Menurut Abang Sinaga, salah satu tokoh masyarakat, lapo tuak memiliki makna yang
lebih dalam dari sekadar tempat minum.
“Lapo tuak itu bukan hanya tempat duduk dan minum bersama. Di situlah kita belajar
menghargai pendapat orang lain, mendengar nasihat orang tua, dan mempererat persaudaraan.
Kalau dimaknai dengan baik, lapo tuak adalah sekolah kehidupan.”
Edukasi tidak selalu hadir di ruang formal. Justru dalam suasana santai dan penuh
keakraban, banyak pelajaran hidup yang tersampaikan secara alami. Generasi muda
dapat menyerap nilai tanggung jawab, etika berbicara, serta pentingnya menjaga persatuan.
Dengan sikap bijak dan saling menghargai, lapo tuak dapat terus menjadi ruang
silaturahmi yang sehat dan membangun, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah
mengakar kuat di tengah masyarakat.

















