Brebes, Dinamikanews.net – Dalam pandangan budaya Jawa, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan laku hidup. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kewenangan yang ia miliki, tetapi dari rasa aman, tenteram, dan manfaat yang dirasakan oleh orang-orang yang dipimpinnya. Di sinilah makna nama menjadi penting, karena nama adalah doa, dan doa adalah arah.
Nama **Tambah Raharjo** memuat dua kata kunci yang sarat filosofi Jawa: *Tambah* dan *Raharjo*.
*Kata “Tambah”* bukan sekadar bermakna bertambah secara jumlah, tetapi **bertumbuh secara kualitas**. Dalam kepemimpinan kesehatan, “Tambah” dapat dimaknai sebagai laku untuk terus memperbaiki, meningkatkan, dan menguatkan. Bukan sekadar menambah program, melainkan menambah kebermanfaatan. Bukan memperbanyak aturan, tetapi menambah keadilan. Dalam falsafah Jawa, ini selaras dengan prinsip **migunani tumraping liyan**—hadirnya pemimpin harus membawa guna bagi sesama.
Sementara itu, *kata “Raharjo”* melambangkan keadaan **selamat, tenteram, dan sejahtera lahir batin**. Dalam konteks kepemimpinan kesehatan, raharjo berarti masyarakat merasa aman ketika berobat, tenaga kesehatan merasa tenang ketika bekerja, dan organisasi berjalan tanpa ketakutan maupun tekanan. Kepemimpinan yang raharjo bukan yang keras dan menekan, melainkan yang **meneduhkan namun tegas**, menjaga martabat manusia dan etika pelayanan.
Jika disatukan, **Tambah Raharjo** menjadi gambaran pemimpin yang menempuh jalan **tumbuh tanpa gaduh, tegas tanpa melukai, dan berwibawa tanpa menakutkan**. Inilah kepemimpinan Jawa yang ideal—*sepi ing pamrih, rame ing gawe*. Bekerja sungguh-sungguh tanpa sibuk mencari pujian atau kepentingan pribadi.
Dalam tradisi Jawa, pemimpin juga dituntut menjalankan prinsip **amanah lan adil**. Jabatan bukan sarana memperkaya diri atau kelompok, melainkan titipan untuk menjaga keselamatan orang banyak. Di sektor kesehatan, amanah itu berlipat ganda, sebab menyangkut nyawa, harapan, dan masa depan masyarakat.
Lebih jauh, kepemimpinan kesehatan dalam lensa budaya Jawa harus mampu menghadirkan **rasa rahayu**keselamatan yang menyeluruh. Bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi juga bebas dari rasa takut, praktik tidak adil, dan ketimpangan layanan. Pemimpin yang rahayu adalah pemimpin yang keberadaannya dirasakan sebelum namanya disebut.
Pada akhirnya, refleksi budaya Jawa mengajarkan bahwa **pemimpin sejati tidak meninggalkan kegaduhan, melainkan ketertiban; tidak menanam ketakutan, melainkan kepercayaan**. Jika kepemimpinan kesehatan mampu berjalan dalam semangat *Tambah Raharjo*, maka yang tumbuh bukan hanya sistem, tetapi juga harapan; bukan hanya kinerja, tetapi juga kesejahteraan lahir dan batin masyarakat Brebes.
Karena dalam kearifan Jawa, **pemimpin yang baik adalah yang ketika ia hadir, keadaan menjadi lebih baik; dan ketika ia pergi, kebaikannya tetap tinggal**.
(D. Miranoor)















