Brebes, Dinamikanews.net – Penetapan Cahrudin sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Brebes periode 2025–2030 memicu kontroversi besar. Indra Kusuma yang digadang kuat dengan dukungan seluruh PAC justru disabotase dalam proses penjaringan. Namanya tersingkir dari rekomendasi akhir, sementara Cahrudin yang tidak pernah diusulkan PAC maupun DPC tiba-tiba ditetapkan oleh DPP.
Keputusan itu membuat banyak kader di Brebes meradang. Mereka menilai proses penjaringan hanya formalitas belaka, sementara keputusan politik sudah dikunci dari atas.
“Penetapan Cahrudin seperti sulapan. Nama itu tidak ada dalam usulan resmi PAC maupun DPC. Penetapan di luar proses jelas membuat kader kecewa,” kata Kismanto, kader PDIP Brebes.
Kekecewaan semakin kuat karena dukungan dari 17 PAC untuk Indra dianggap tidak dihargai.
“Suara PAC diabaikan, proses penjaringan hanya sandiwara. Kalau aspirasi kader tidak dihargai, bagaimana publik bisa percaya pada komitmen PDIP terhadap rakyat,” ujarnya.
Ia menegaskan sabotase terhadap Indra bisa membuat konsolidasi partai sulit dilakukan. “Kader di bawah bisa apatis, bahkan berbalik arah. Jangan kaget kalau suara PDIP di Brebes merosot tajam,” katanya.
Penunjukan Cahrudin juga menimbulkan tanda tanya karena rekam jejaknya dianggap problematis. Pada Pilkada Brebes 2024, ia disebut berada di barisan pejuang kotak kosong, bukan mendukung calon bupati yang direkomendasikan PDIP.
“Bagaimana mungkin seorang yang pernah melawan rekomendasi partai kini ditunjuk memimpin DPC. Ini mencederai demokrasi internal dan menimbulkan pertanyaan serius soal loyalitas,” kata Kismanto.
Meski Cahrudin dikenal sebagai politisi senior dengan pengalaman panjang di DPRD Brebes, legitimasi kepemimpinannya kini dipertanyakan.
“Hal ini tidak bisa menutup fakta bahwa internal runtuh, dan ke depan dampaknya bisa langsung terasa pada perolehan suara PDIP di Brebes,” ujarnya.
Kismanto juga mempertanyakan dokumen 13.31/KPTS/DPP/XII/2025 yang menjadi dasar penetapan Cahrudin.
“Tokoh pembangkang yang dulu melawan rekomendasi partai, sekarang justru direkom DPP jadi ketua DPC. Wah… wibawa partai dikemanakan,” ucapnya.
Kontroversi ini diprediksi terus bergulir. Indra Kusuma akhirnya angkat bicara dengan sikap legowo, meski namanya disabotase dari rekomendasi akhir.
“Legowo aja, ke depan tugas partai semakin berat dengan keadaan politik nasional yang semakin kompetitif dan sangat berpengaruh sampai di daerah,” ungkapnya. (D. Miranoor)















