Modernitas Semu di Tengah Krisis Lingkungan dan Sosial

Selasa, 27 Mei 2025 - 10:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dinamikanews.net- Pembangunan di Tangerang, yang kerap diagung-agungkan sebagai gerbang metropolitan penyangga Jakarta, sesungguhnya menyimpan ironi mendalam.

Di balik kilau gedung-gedung pencakar langit dan gurita infrastruktur yang terus merayap, terkuak wajah carut marut yang memilukan, sebuah manifestasi nyata dari kegagalan perencanaan dan abainya keberpihakan terhadap rakyat.

Pangkal persoalan ini terletak pada perencanaan yang serampangan dan egosentris. Proyek-proyek raksasa, mulai dari pusat perbelanjaan megah hingga kawasan residensial premium, digelontorkan tanpa visi komprehensif mengenai daya dukung lingkungan dan dampak sosial yang ditimbulkannya.

Akibatnya, alih-alih memberikan solusi, pembangunan ini justru memicu krisis multidimensional: kemacetan kronis yang melumpuhkan produktivitas, banjir musiman yang merenggut harta benda dan ketenangan warga, serta lenyapnya ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi paru-paru kota. Ini bukan lagi sekadar ketidakselarasan, melainkan pengkhianatan terhadap prinsip pembangunan berkelanjutan.

Sektor transportasi adalah bukti nyata betapa Tangerang telah gagal merancang mobilitas yang manusiawi. Meskipun ada geliat pengembangan transportasi massal, percepatan pertumbuhan kendaraan pribadi jauh lebih agresif.

Baca Juga :  Kapolres Tangerang Selatan Pimpin Sertijab Tiga Pejabat Utama Polres Tangerang Selatan

Penataan lalu lintas yang kedodoran, ditambah dengan menjamurnya parkir liar yang dibiarkan, serta sistem angkutan umum yang amburadul, semakin mengikat warga dalam belenggu kemacetan abadi. Waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan untuk kemajuan, justru terkuras habis di jalanan, sebuah pemborosan kolektif yang tak termaafkan.

Lalu, bagaimana dengan lingkungan? Ini adalah noda hitam yang paling mencolok. Nafsu pembangunan yang membabi buta telah mengorbankan ekologi. Lahan resapan air yang krusial kini berubah menjadi beton.

Persoalan sampah yang tak kunjung teratasi, diperparah oleh minimnya edukasi dan penegakan hukum, telah menjadikan Tangerang sebagai salah satu kontributor polusi yang signifikan.

Kualitas udara dan air terus memburuk, mengancam kesehatan generasi sekarang dan mendatang. Ini adalah kriminalisasi lingkungan yang harus dipertanggungjawabkan.

Yang lebih mengkhawatirkan, partisipasi publik dalam proses pembangunan seringkali hanya menjadi formalitas belaka. Keputusan-keputusan strategis, yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak, kerap diambil di balik meja, jauh dari suara dan aspirasi masyarakat.

Baca Juga :  Camat Rajeg Hadiri Launching Program Makan Bergizi Gratis 2025

Ketika suara rakyat diabaikan, maka pembangunan akan kehilangan legitimasi moralnya dan hanya menjadi alat bagi segelintir kepentingan.

Tangerang sesungguhnya memiliki potensi tak terbatas. Namun, potensi itu terancam digerogoti oleh kebijakan yang tidak visioner dan abai. Sudah saatnya pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan melakukan introspeksi mendalam, bukan sekadar basa-basi.

Penegakan hukum yang tanpa pandang bulu, revisi tata ruang yang berpihak pada rakyat dan lingkungan, serta pelibatan masyarakat secara substantif adalah keharusan mutlak. Tanpa langkah-langkah drastis ini, gemerlap pembangunan di Tangerang hanyalah fatamorgana yang menyembunyikan kerapuhan dan penderitaan.

Apakah kita akan terus membiarkan ironi ini berlanjut, atau berani menuntut pertanggungjawaban dan perubahan fundamental?

Berita Terkait

Penǰelasan Mantan Kepala Dinsos Brebes, Terkait Dugaan Korupsi Bansos Beras oleh Oknum Kemensos dan Pihak Transporter
Cikal Bakal Brebes, Dikenal Sejak Dulu Sebagai “Kota Bawang Merah”
Asal Usul Pulau Nusakambangan: Legenda dan Sejarah yang Menyimpan Misteri
Presiden Prabowo: Setiap Bencana Harus Menjadi Pelajaran untuk Memperkuat Kesiapsiagaan!
Bukan Debu Biasa, Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Terasa di Tangerang Selatan
Jejak Cerita Desa Randusanga Kulon, Dari Bekas Musyawarah Walisongo Hingga Sentra Rumput Laut
Jejak Sejarah Losari, Dari Pelabuhan Kuno Hingga Wilayah Penyebaran Islam di Brebes
Jejak Sejarah Brebes : Dari Wilayah Perbatasan Hingga Menjadi Kabupaten Yang Berkarakter

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 07:24 WIB

Penǰelasan Mantan Kepala Dinsos Brebes, Terkait Dugaan Korupsi Bansos Beras oleh Oknum Kemensos dan Pihak Transporter

Jumat, 11 September 2026 - 06:19 WIB

Cikal Bakal Brebes, Dikenal Sejak Dulu Sebagai “Kota Bawang Merah”

Kamis, 10 September 2026 - 05:00 WIB

Asal Usul Pulau Nusakambangan: Legenda dan Sejarah yang Menyimpan Misteri

Selasa, 8 September 2026 - 16:01 WIB

Presiden Prabowo: Setiap Bencana Harus Menjadi Pelajaran untuk Memperkuat Kesiapsiagaan!

Minggu, 6 September 2026 - 14:20 WIB

Bukan Debu Biasa, Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Terasa di Tangerang Selatan

Berita Terbaru

Berita

RSUP NTB Sukses Operasi Bedah Saraf Otak Pertama

Minggu, 13 Sep 2026 - 11:25 WIB

Berita

62 SPPG Di Tangerang Ditutup Karena Tak Kantongi SLHS

Sabtu, 12 Sep 2026 - 18:02 WIB