Pringsewu Lampung, Berawal dari Kampung Margakaya hingga Menjadi Kabupaten

Senin, 12 Oktober 2026 - 16:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMPUNG, Dinamikanews.net — Sejarah Pringsewu menyimpan perjalanan panjang yang bermula dari sebuah perkampungan bernama Tiuh Margakaya pada 1738. Wilayah yang kini menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Lampung ini berkembang melalui kedatangan penduduk dari Pulau Jawa, pembukaan permukiman baru, hingga akhirnya resmi menjadi daerah otonom pada 2009.

Nama Pringsewu juga memiliki cerita tersendiri. Berasal dari bahasa Jawa, kata pring berarti bambu dan sewu berarti seribu. Nama tersebut berkaitan dengan kondisi wilayah yang dahulu dikenal memiliki hutan bambu lebat.

Bermula dari Tiuh Margakaya pada 1738

Jejak awal sejarah Pringsewu berawal dari Tiuh Margakaya, sebuah perkampungan yang berdiri pada 1738 di tepi aliran Sungai Way Tebu. Kawasan tersebut dihuni masyarakat asli Lampung-Pubian.

Margakaya menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah wilayah Pringsewu sebelum berkembang menjadi kawasan permukiman yang lebih luas. Lokasinya diperkirakan berjarak sekitar empat kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Pringsewu saat ini.

Tahun 1925, Awal Mula Nama Pringsewu

Perkembangan penting terjadi pada 1925 ketika penduduk dari Pulau Jawa datang dan membuka permukiman baru di sekitar Margakaya. Sebagian penduduk tersebut berasal dari wilayah Bagelen dan Gedong Tataan melalui program kolonisasi pemerintah Hindia Belanda.

Baca Juga :  Barongsai Seni Budaya Tiongkok Warisan Leluhur, Mengakar Ribuan Tahun, Meriahkan Tahun Baru China 2577

Mereka membuka lahan yang sebelumnya dipenuhi hutan bambu. Karena banyaknya tanaman bambu di kawasan tersebut, permukiman baru itu kemudian dikenal dengan nama Pringsewu, yang bermakna “seribu bambu”.

Tanggal 9 November 1925 kerap disebut sebagai tonggak berdirinya Desa Pringsewu. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam perkembangan wilayah yang kemudian menggunakan nama yang sama sebagai nama kecamatan dan kabupaten.

Menjadi Pusat Pemerintahan Kawedanaan Tataan

Perkembangan Pringsewu berlanjut pada 1936 dengan berdirinya pemerintahan Kawedanaan Tataan yang berkedudukan di Pringsewu.

Kedudukan tersebut membuat Pringsewu semakin berkembang sebagai pusat administrasi wilayah. Pemerintahan kawedanaan berlangsung hingga 1964, ketika sistem kawedanaan dihapuskan dan Kecamatan Pringsewu dibentuk sebagai bagian dari Kabupaten Lampung Selatan.

Perubahan administratif ini menjadi bagian dari proses panjang Pringsewu sebelum akhirnya menjadi kabupaten tersendiri.

Baca Juga :  Nasib Pilu Pantai Randusanga Indah, dari Surga Wisata Menjadi Lahan Terlantar

Dari Bagian Kabupaten Tanggamus Menjadi Kabupaten Mandiri

Pada 1997, Pringsewu menjadi bagian dari Kabupaten Tanggamus setelah pemekaran wilayah dari Kabupaten Lampung Selatan.

Perjalanan menuju pemerintahan mandiri kemudian mencapai tahap penting melalui pembentukan Kabupaten Pringsewu berdasarkan Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2008.

Kabupaten Pringsewu secara resmi diresmikan pada 3 April 2009 oleh Menteri Dalam Negeri saat itu, Mardiyanto, di Jakarta. Peresmian tersebut menandai babak baru pemerintahan dan pembangunan Pringsewu sebagai daerah otonom di Provinsi Lampung.

Pringsewu, Jejak Sejarah dan Perkembangan Daerah

Sejarah Pringsewu menunjukkan bagaimana sebuah perkampungan berkembang menjadi pusat pemerintahan dan kemudian menjadi kabupaten. Perjalanan itu tidak terlepas dari keberadaan masyarakat Lampung-Pubian, kedatangan penduduk dari Jawa, serta perubahan administrasi dari masa kolonial hingga Indonesia merdeka.

Nama Pringsewu tetap menjadi pengingat akan kondisi alam masa lalu, ketika hutan bambu menjadi ciri khas kawasan tersebut. Kini, nama itu melekat pada identitas daerah sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Provinsi Lampung.

(D. Miranoor)

Berita Terkait

Sejarah Gedung Sate Bandung: Ikon Bersejarah Peninggalan Belanda yang Menjadi Simbol Jawa Barat
Cerita Gunung Merapi: Gunung Api yang Menyimpan Sejuta Kisah, dari Legenda hingga Sejarah Erupsi
Jejak Syekh Maulana Maghribi, Ulama Penyebar Islam yang Makamnya Dikenal di Berbagai Daerah Jawa
Prakiraan Cuaca Jawa Tengah 8 Oktober 2026: 17 Daerah Berpeluang Hujan Ringan, Warga Diminta Waspada
Sejarah Monumen Juang Pekalongan, Mengenang Perjuangan Rakyat Mempertahankan Kemerdekaan
Keunikan Pembangunan Jembatan Loji Pekalongan di Era Kolonial Belanda, Terbuat dari Semen dan Tepung Kanji
Sejarah Tugu Sirandu Pemalang, Landmark Bersejarah di Pusat Kota
Sejarah Lawang Sewu Semarang: Bukan Sekadar Bangunan Tua, Ini Kisah di Balik Ikon Kota Lumpia

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 16:21 WIB

Pringsewu Lampung, Berawal dari Kampung Margakaya hingga Menjadi Kabupaten

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:19 WIB

Sejarah Gedung Sate Bandung: Ikon Bersejarah Peninggalan Belanda yang Menjadi Simbol Jawa Barat

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 05:29 WIB

Cerita Gunung Merapi: Gunung Api yang Menyimpan Sejuta Kisah, dari Legenda hingga Sejarah Erupsi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 07:03 WIB

Jejak Syekh Maulana Maghribi, Ulama Penyebar Islam yang Makamnya Dikenal di Berbagai Daerah Jawa

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:53 WIB

Prakiraan Cuaca Jawa Tengah 8 Oktober 2026: 17 Daerah Berpeluang Hujan Ringan, Warga Diminta Waspada

Berita Terbaru