Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan? Semakin Ditekan Semakin Penasaran

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dinamikanews.net – Nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi memicu polemik di berbagai daerah. Di sejumlah kampus, petugas keamanan menghentikan pemutaran film ini setelah acara baru berlangsung beberapa menit.

Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana pembubaran. Sementara itu, banyak warganet mempertanyakan isi film tersebut dan alasan di balik penghentian nobar.

Film Pesta Babi mengkritik proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan. Selain itu, dokumenter ini menyoroti dugaan keterlibatan aparat keamanan dalam pengawalan proyek investasi skala besar.

Lalu, apa isi film Pesta Babi dan mengapa nobarnya menuai kontroversi?

Apa Itu Film Pesta Babi?

Nonton film Pesta Babi hanya dapat dilakukan lewat kegiatan nobar. (Sumber: Intagram/@Indonesia Baru)

Mengutip akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan film dokumenter investigatif yang mengangkat konflik pembangunan di Papua Selatan.

Sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale mengemas film ini sebagai laporan visual berdurasi 95 menit. Melalui film tersebut, keduanya mengulas konflik lahan, nasib masyarakat adat, dan dampak proyek strategis nasional.

Baca Juga :  Menggembirakan Anak Bangsa: Melalui Rumah Sehat Baznas Adakan Sunatan Massal di HUT Baznas Brebes ke-3

Dengan kata lain, film ini tidak menawarkan hiburan semata. Sebaliknya, film ini mengajak penonton menelaah perubahan besar yang terjadi di tanah Papua.

Film ini mengambil latar di Papua Selatan, khususnya di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

Selanjutnya, film menyoroti kehidupan masyarakat adat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu. Mereka mengaku kehilangan tanah dan ruang hidup akibat ekspansi perkebunan tebu, sawit, dan proyek food estate.

Selain itu, dokumenter ini memperlihatkan pembukaan hutan adat untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan skala besar. Akibatnya, banyak warga merasa tersingkir dari tanah leluhur mereka.

Film ini juga menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk “kolonialisme modern” di Papua. Di sisi lain, film menyoroti dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek investasi.

Salah satu simbol penting dalam film adalah “salib merah”. Warga adat memasang simbol itu sebagai tanda penolakan terhadap perusahaan yang menguasai lahan.

Baca Juga :  Polresta Tangerang Gerebek Judi Sabung Ayam di Jayanti

Judul film ini berasal dari tradisi masyarakat Muyu yang bernama Awon Atatbon. Dalam ritual adat tersebut, babi menjadi simbol penting dalam kehidupan sosial dan budaya.

Namun, tradisi itu bergantung pada kelestarian hutan Papua. Karena itu, para pembuat film menggunakan istilah Pesta Babi sebagai metafora untuk menunjukkan bahwa kerusakan hutan turut mengancam identitas budaya masyarakat adat.

Kenapa Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan?

Sejumlah kampus dan komunitas sempat menggelar pemutaran film ini. Namun, petugas keamanan menghentikan beberapa acara dengan alasan menjaga ketertiban.

Menurut unggahan Ekspedisi Indonesia Baru, pihak Universitas Mataram menghentikan nobar pada 7 Mei 2026. Pihak kampus dan petugas keamanan mengambil langkah tersebut dengan alasan menjaga kondusivitas.

Selain itu, petugas juga menghentikan pemutaran di UIN Mataram ketika film baru berjalan beberapa menit.

Tak hanya itu, agenda nobar di Universitas Pendidikan Mandalika juga tidak berlanjut.

Sementara itu, laporan lain menyebut adanya pembatalan dan tekanan terhadap pemutaran film di Ternate dan Yogyakarta. Meski demikian, informasi mengenai dua kota tersebut belum selengkap laporan dari Mataram.

Berita Terkait

Hari Anak Nasional, Orang Tua Diminta Bangun Kedekatan Dengan Anak
Bupati Tangerang Resmikan Pura Parahyangan Agung Bhuwana Raksati
Kemenag Kabupaten Tangerang Luncurkan Program Madrasah Ligh Competition 
1.095 Personel Disiagakan Untuk Pengamanan Unjuk Rasa Di Jakarta Pusat
Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Argentina 1-0
Seluruh RT dan RW Kelurahan Sawah Baru Gelar Mancing Mania Pererat Kebersamaan Warga
Data 900 Petani Diduga Dipakai Ajukan KUR, 3 Orang Jadi Tersangka
Perahu Bocor Dan Tenggelam, Seorang Pemancing Hilang Di Waduk Saguling

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:48 WIB

Hari Anak Nasional, Orang Tua Diminta Bangun Kedekatan Dengan Anak

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:18 WIB

Bupati Tangerang Resmikan Pura Parahyangan Agung Bhuwana Raksati

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:21 WIB

Kemenag Kabupaten Tangerang Luncurkan Program Madrasah Ligh Competition 

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:17 WIB

1.095 Personel Disiagakan Untuk Pengamanan Unjuk Rasa Di Jakarta Pusat

Senin, 20 Juli 2026 - 14:14 WIB

Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Argentina 1-0

Berita Terbaru