Jakarta, Dinamikanews.net – Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yanu Endar Prasetyo mengapresiasi langkah Badan Gizi Nasional (BGN) yang bersedia mengevaluasi dan menata ulang tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam sesi wawancara di ANTARA Heritage Center, Jakarta, Rabu, Yanu menilai sikap terbuka pemerintah dan BGN untuk mendengarkan aspirasi publik merupakan sinyal positif bagi perbaikan kebijakan tersebut.
Kendati demikian, Yanu mengingatkan agar perbaikan program skala nasional ini ke depannya harus dilandasi oleh indikator yang terukur secara objektif, bukan sekadar pelabelan yang bersifat subjektif.
“Program sebesar ini tidak bisa kita menggunakan indikator subjektif seperti sekolah kaya, sekolah miskin. Indikator harus objektif, apa sih sekolah kaya itu? Apa sih sekolah miskin? Apa itu 3T begitu ya,” katanya.
Yanu menilai penentuan sasaran penerima manfaat harus dikalibrasi ulang dengan melihat tingkat kerentanan suatu daerah, seperti tingginya angka kemiskinan, prevalensi tengkes (stunting), hingga status kerentanan pangan di wilayah terkait.
Ia meyakini bahwa pemerintah sejatinya sudah mengantongi berbagai data strategis tersebut. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana menyatukan dan mengonsolidasikan data-data itu ke dalam satu sistem yang transparan agar penyaluran program menjadi benar-benar tepat sasaran.
Lebih lanjut, peneliti BRIN yang telah berkecimpung di riset sosial selama 17 tahun ini juga menyoroti desain awal pelaksanaan program yang dinilai terlalu terburu-buru mengejar skala universal secara serentak, sehingga kini justru terpaksa dipersempit kembali cakupannya.
“Padahal seharusnya secara kebijakan publik, secara desain sebuah program, target dulu, baru kemudian kita mendekati universal. Nah, di sinilah kemudian momentum yang tepat untuk kemudian menata lagi,” ujarnya.
Melalui pembenahan basis data dan penataan sasaran yang terencana dengan baik, Yanu optimistis cita-cita mulia Presiden RI Prabowo Subianto untuk menghadirkan manfaat makan bergizi bagi seluruh anak Indonesia pada akhirnya dapat terwujud secara menyeluruh dan berkesinambungan.















