Pekalongan, Dinamikanews.net – Sejarah Jembatan Loji Pekalongan, Jejak Kolonial yang Masih Bertahan
Jembatan Loji Pekalongan menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masih dikenali sebagai ikon heritage Kota Pekalongan. Jembatan ini membentang di atas Kali Loji atau Kali Kupang dan berada di kawasan yang kini dikenal sebagai koridor Jetayu–Sultan Agung.
Pekalongan Kota +1
Dibangun pada Masa Kolonial
Sejumlah sumber sejarah lokal menyebut Jembatan Loji telah ada sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Tahun pembangunannya memiliki beberapa versi. Kajian akademik mengenai struktur jembatan menyebut tahun 1880, sedangkan sumber lokal lainnya memperkirakan pembangunan sekitar 1908. Karena adanya perbedaan sumber, jembatan ini lebih aman disebut sebagai peninggalan akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Trans Pekalongan +1
Pada masa kolonial, keberadaan jembatan memiliki peran penting karena menjadi bagian dari jalur penghubung kawasan pesisir dengan wilayah pedalaman Pekalongan. Jembatan tersebut juga menghubungkan kawasan pemerintahan dengan kawasan perdagangan, termasuk pasar, kawasan Pecinan dan Kampung Arab.
Mechtadeera +1
Kisah Campuran Semen dan Tepung Kanji
Salah satu cerita yang melekat pada sejarah pembangunan Jembatan Loji adalah kisah penggunaan tepung kanji atau pati dalam proses pengecoran pondasi.
Menurut cerita masyarakat yang dihimpun dalam sumber sejarah lokal, insinyur Belanda sempat kesulitan karena adonan semen untuk pondasi terbawa arus Kali Loji. Seorang pekerja lokal kemudian mengusulkan agar campuran tersebut diberi tepung kanji. Cerita itu menyebut kanji membantu membuat semen tetap melekat pada bagian konstruksi meskipun terkena aliran air.
Trans Pekalongan
Kisah tersebut menjadi bagian dari cerita turun-temurun mengenai keterlibatan masyarakat lokal dalam pembangunan jembatan.
Menjadi Penghubung Ekonomi Pekalongan
Jembatan Loji bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berperan dalam perkembangan aktivitas ekonomi Kota Pekalongan. Kajian mengenai jembatan ini menyebut bahwa sejak awal keberadaannya, Jembatan Loji menjadi bagian penting dari jalur Pantura dan jalur perekonomian.
Prosiding Stekom
Setelah Indonesia merdeka, jembatan tetap dipertahankan dan digunakan sebagai penghubung kawasan pesisir dengan wilayah lainnya.
Tetap Dipertahankan sebagai Cagar Budaya
Usia yang telah lebih dari satu abad membuat Jembatan Loji memiliki nilai penting sebagai warisan arsitektur dan sejarah Pekalongan. Pemerintah Kota Pekalongan terus melakukan upaya perlindungan terhadap bangunan tersebut.
Pada Juni 2026, Pemkot Pekalongan melalui DPUPR kembali memasang portal pembatas di Jembatan Lodji Lama. Pembatas tersebut bertujuan mencegah kendaraan besar melintas dan menjaga konstruksi jembatan bersejarah tersebut.
Pekalongan Kota
Jembatan Loji pada akhirnya bukan sekadar penghubung dua sisi sungai. Ia menjadi saksi perjalanan Pekalongan dari masa kolonial, perkembangan perdagangan kota, hingga kehidupan masyarakat modern. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa perkembangan sebuah kota juga tersimpan pada jembatan-jembatan tua yang masih bertahan hingga sekarang.
(D. Miranoor)















