BREBES, Dinamikanews.net – Krisis air bersih kembali menjadi persoalan serius di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Memasuki awal Oktober 2026, permintaan bantuan air bersih dari wilayah terdampak kekeringan terus meningkat, terutama di Brebes bagian selatan.
Data terbaru menyebutkan sedikitnya 19 desa mengajukan permintaan droping air bersih. Desa-desa tersebut tersebar di Kecamatan Bantarkawung, Paguyangan, Bumiayu dan Tonjong.
Kondisi tersebut membuat pelayanan distribusi air bersih menghadapi kendala. BPBD Posko Bumiayu menyebut keterbatasan armada menjadi salah satu persoalan karena permintaan bantuan terus berdatangan dari berbagai wilayah terdampak.
Krisis air bersih terjadi setelah kemarau panjang membuat sejumlah sumber air warga mengalami penurunan debit bahkan mengering. Warga membutuhkan pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak, minum dan keperluan rumah tangga.
Sebelumnya, BPBD Brebes juga telah melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. Pada September, bantuan air bersih dilaporkan telah menjangkau puluhan ribu warga di berbagai desa terdampak.
Kondisi kekeringan di Brebes juga mendapat perhatian karena BMKG menetapkan Kabupaten Brebes dalam status Awas peringatan dini kekeringan meteorologis pada dasarian pertama Oktober 2026, bersama sejumlah kabupaten lain di Jawa Tengah.
Di sisi lain, bantuan dari berbagai pihak terus dilakukan. Pada 30 September 2026, NU Peduli bersama BPBD juga BPR Bank Brebes menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Dukuh Tuban, Desa Taraban, Kecamatan Paguyangan dan masyarakat lainnya yang terdampak kekeringan, sebagai respons terhadap krisis air akibat kemarau panjang.
Krisis air bersih ini menjadi perhatian karena kebutuhan warga diperkirakan masih tinggi selama kondisi kekeringan belum berakhir. Pemerintah dan berbagai pihak diharapkan terus memperkuat distribusi air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terdampak tetap terpenuhi.
(D. Miranoor)















