Sumbar, Dinamikanews.net – Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali erupsi pada 1 Oktober 2026, pukul 10.00 WIB dengan aktivitas letusan terekam pada seismograf meski kolom abu tidak teramati secara visual.
“Rekaman seismik menunjukkan adanya aktivitas letusan, namun kondisi puncak yang tertutup awan membuat perkembangan kolom erupsi belum bisa terlihat dari pengamatan langsung,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi di Bukittinggi, Kamis (1/7).
Ia menyebut erupsi tercatat memiliki amplitudo maksimum 19,5 milimeter dengan durasi gempa letusan sekitar 27 detik.
Ia menyatakan sebaran abu vulkanik terpantau mengarah ke bagian selatan Gunung Marapi, yakni wilayah Kota Padang Panjang dan Kabupaten Tanah Datar.
PGA Marapi mencatat erupsi tersebut merupakan kejadian erupsi ke-63 sepanjang 2026.
Ia mengatakan Gunung Marapi hingga saat ini masih berstatus Level II (Waspada). Masyarakat, pendaki, pengunjung, dan wisatawan dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek yang menjadi pusat erupsi.
“Masyarakat dan wisatawan diminta tetap memperhatikan ketentuan keselamatan yang berlaku di kawasan Gunung Marapi serta menghindari area sekitar pusat aktivitas vulkanik,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat yang tinggal di sekitar lembah, jalur aliran, dan bantaran sungai yang berhulu di puncak Gunung Marapi meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar, terutama saat terjadi hujan di kawasan puncak.
Ia mengimbau masyarakat agar menggunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut dari paparan abu vulkanik yang dapat memicu gangguan pernapasan, serta menggunakan pelindung mata dan kulit apabila terjadi hujan abu.
Selain itu, ia meminta masyarakat untuk mengamankan persediaan air bersih dan membersihkan abu vulkanik yang menumpuk di atap rumah untuk mengurangi risiko kerusakan bangunan.















