BMKG: Kemarau 2026 lebih kering dibanding rata-rata selama 30 tahun

Selasa, 14 April 2026 - 14:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dinamikanews.net – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan musim kemarau tahun 2026 berpotensi bersifat lebih kering jika dibandingkan dengan nilai rata-ratanya selama periode 30 tahun terakhir.

Direktur Perubahan Iklim BMKG Fachri Rajab menjelaskan selain lebih kering, musim kemarau tahun ini diprakirakan akan datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang.

“Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah sepanjang 30 tahun,” kata Fachri dalam diskusi memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-76 Stasiun Klimatologi Jawa Barat “Observing Today, Protecting Tomorrow” di Jakarta, Selasa.

Fachri meluruskan informasi di ruang publik belakangan ini yang menyebutkan kemarau 2026 sebagai yang paling ekstrem, bahkan sejumlah pihak menamai dengan sebutan yang terkesan sangat mengerikan Kemarau Godzila atau El-Nino Godzila.

BMKG tidak menggunakan istilah tersebut, kata dia, dan menilai fenomena yang digambarkan itu tidak sepenuhnya benar, cenderung berlebihan untuk disampaikan kepada publik.

Baca Juga :  Masih Banyak PR yang Harus Ditangani Pj Sekda

Jika dibandingkan tahun per tahun, lanjutnya, kemarau tahun 1997 dan 2015 masih jauh lebih dahsyat, tetapi kondisi tahun ini diprediksi memang lebih kering dibandingkan tahun 2023.

Kondisi kemarau tahun ini dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026, kehadiran fenomena inilah yang berpengaruh pada berkurangnya intensitas curah hujan di wilayah Indonesia

“Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu kedua barang yang berbeda gitu ya. Walaupun El Nino mempengaruhi intensitas dari musim kemarau, tapi musim kemarau bukan karena ada El Nino, bukan gitu ya,” katanya.

Dia menjelaskan ada atau tidak ada El Nino, di Indonesia tetap ada musim kemarau sepanjang tahun mengingat negara ini beriklim tropis yang hanya ada musim hujan dan kemarau.

“Karena kemarau tahun ini berbarengan dengan aktifnya El Nino, sehingga curah hujannya relatif lebih sedikit. Saat ini intensitas El Nino masih dalam kategori lemah,” ucap Fachri.

Baca Juga :  Wabup Intan Kunjungi RS Insan Nusantara Rajeg

Adapun intensitas El Nino tersebut diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III tahun 2026, tepatnya sekitar bulan Agustus, September, hingga Oktober sebagaimana analisis dari tim klimatologi BMKG.

Fachri menekankan informasi ini harus ditanggapi serius, namun tidak perlu berlebihan atau bahkan menjadi panik. Kolaborasi lintas sektor dan masyarakat untuk melakukan mitigasi menjadi hal yang paling penting, sehingga ketersediaan air bersih dan keberlangsungan pertanian-perkebunan terjaga.

“Sekali lagi kami sampaikan bahwa memang tahun ini musim kemarau kita relatif lebih kering dibandingkan dengan rata-ratanya, kemudian ada fenomena El Nino gitu ya. Tapi El Nino itu hanya ada El Nino lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat gitu ya, jadi tidak ada El Nino-El Nino lain, tidak ada El Nino Pokemon, tidak ada El Nino King Kong itu nggak ada ya,” kata ucap Direktur Perubahan Iklim BMKG Facri Rajab.

Berita Terkait

Harga Pangan di Brebes Naik, Cabai Rawit Merah Tembus Rp80 Ribu per Kilogram
Ledakan di Gudang MBG Pasar Cimanggis Ciputat, Enam Ruko Rusak
Dana Darurat Bencana Diduga Dikorupsi, KPK Tetapkan Lima Tersangka di BNPB
DWP Brebes Ajak Keluarga Saling Menata Keharmonisan, Bersinergi, dan Bijak Mengelola Warisan
Pasien Berpeluang Mendapat Layanan Jantung di Brebes, Pemkab Usulkan Revitalisasi RSUD
Tasyakuran Hari Jadi Tigaraksa ke-394: Merawat Ingatan, Memperkuat Persatuan
Tumpukan Sampah SPPG, Berserakan Dalam Jurang dan Tepi Kawasan Hutan pinus/lindung Desa Dawuhan
KPK Tahan Lima Orang Usai OTT BNPB

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Harga Pangan di Brebes Naik, Cabai Rawit Merah Tembus Rp80 Ribu per Kilogram

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:20 WIB

Ledakan di Gudang MBG Pasar Cimanggis Ciputat, Enam Ruko Rusak

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:51 WIB

Dana Darurat Bencana Diduga Dikorupsi, KPK Tetapkan Lima Tersangka di BNPB

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:55 WIB

DWP Brebes Ajak Keluarga Saling Menata Keharmonisan, Bersinergi, dan Bijak Mengelola Warisan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 01:04 WIB

Tasyakuran Hari Jadi Tigaraksa ke-394: Merawat Ingatan, Memperkuat Persatuan

Berita Terbaru